Di mata banyak orang, Vincent van Gogh hanyalah sebuah anomali—seorang pria yang aneh, gagal, dan tersisih dari masyarakat. Ia sadar betul akan label itu. Dalam kesunyiannya, ia pernah menulis kepada Theo, adiknya, dengan kejujuran yang menyayat: "Siapa aku di mata dunia? Seseorang yang tidak berarti, atau setidaknya, sesuatu yang kurang dari yang paling hina." Namun, di balik stigma kegilaan yang disematkan padanya, tersimpan sebuah ambisi yang lahir bukan dari dendam, melainkan dari cinta yang meluap-luap. Ia ingin menunjukkan bahwa di dalam hati seorang yang dianggap "nihil" sekalipun, tersimpan irama perasaannya yang murni.
Bagi Vincent, melukis bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk tetap bernapas. Ia memperlakukan seni sebagai tuan yang cemburu, yang menuntut seluruh waktu, kesehatan, bahkan nyawanya. Ia sering bekerja hingga kehabisan tenaga, berdiri di tengah angin dan matahari sampai badannya tidak mampu lagi menopang dirinya sendiri. Namun, ia menolak untuk beristirahat. Baginya, kebenaran tidak ditemukan di dalam studio yang bersih atau akademi yang kaku, melainkan pada tangan-tangan kasar petani yang menggali tanah, pada lumpur yang memercik, dan pada warna-warna alam yang jujur. Ia tidak ingin melukis sosok yang diam; ia ingin melukis kehidupan yang sedang berdenyut.
Warna di tangan Vincent adalah bahasa emosi, bukan sekadar tiruan realita. Ia sering kali sengaja "berbohong" dalam menggunakan warna untuk menyampaikan kebenaran yang lebih dalam. Ketika ia melukis seorang sahabat, ia akan melebih-lebihkan warna rambut pirangnya menjadi oranye yang membara dan mengganti dinding kamar yang membosankan dengan latar belakang biru tak terhingga. Di tangannya, kepala seorang manusia biasa bisa berubah menjadi bintang yang bersinar di tengah angkasa. Ia percaya bahwa untuk mencapai seni yang sejati, seseorang harus berani menyimpang dari kenyataan yang kering demi menangkap getaran jiwa yang ia rasakan.
Pada akhirnya, Vincent tidak pernah peduli apakah karyanya akan laku atau dipuji di zamannya. Ia hanya ingin bekerja dengan setia dan jujur dari alam. Baginya, seorang pelukis memiliki tugas untuk menyerap diri ke dalam semesta, hingga setiap goresan kuasnya bisa dipahami oleh orang lain sebagai sebuah pesan cinta. Di tengah semua kesulitan dan penyakit yang mendera, ia tetap menemukan kedamaian dalam keyakinan sederhana: bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh adalah satu-satunya jalan menuju tujuan. Ia mungkin dianggap gila oleh dunia yang kaku, tapi lewat warna-warnanya, ia adalah satu dari sedikit manusia yang benar-benar melihat cahaya di tengah kegelapan.

Social Header