Breaking News

Père Tanguy: Dari Pedagang Alat Lukis ke Ikon dalam Karya Van Gogh Oleh: Hamid Nabhan

Julien-François Tanguy (1825-1894), yang akrab disebut Père Tanguy atau Ayah Tanguy, adalah seorang pedagang alat dan bahan seni yang menjadi figur penting di komunitas seniman Paris tahun 1880-an. Asal usulnya sebagai petani dari daerah Breton membuatnya memiliki watak yang ramah dan penuh perhatian terhadap seniman muda yang sering mengalami kesulitan finansial. Ia menjalankan toko di Rue Clauzel 14, Paris, gedung tersebut hingga kini masih berdiri dan kini dihuni oleh usaha bernama Les Ateliers du Père Tanguy. Tanguy tidak hanya menjual cat, kanvas, dan alat lukis, tetapi juga menerima lukisan sebagai pembayaran dan menampilkannya di toko maupun jendela depannya. Émile Bernard bahkan pernah menggambarkan mengunjungi tokonya seperti "mengunjungi museum", karena banyak karya seniman kontemporer yang dipajang di sana.

   Van Gogh bertemu Tanguy setelah pindah ke Paris pada Maret 1886 untuk tinggal bersama saudaranya Theo. Pada awalnya, Van Gogh datang sebagai sosok yang muram dan pemalu, namun toko Tanguy menjadi salah satu tempat yang membuatnya merasa nyaman. Tanguy sering memberikan kredit kepada Van Gogh ketika ia kekurangan uang, dan bahkan setelah Van Gogh pindah ke Arles, Theo tetap membeli bahan seni dari tokonya. Van Gogh sendiri lebih suka membeli cat dari Tanguy meskipun kualitasnya tidak selalu terbaik, dan sering memberikan petunjuk khusus tentang warna mana yang boleh dibeli. Di toko Tanguy, Van Gogh bertemu seniman ternama seperti Camille Pissarro, Henri Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin, dan Émile Bernard, yang kemudian menjadi teman dekatnya. Mereka sering berdiskusi tentang perkembangan seni baru seperti Impresionis, Pointilis, dan Japonisme. Karya Van Gogh mulai dipajang di toko Tanguy sejak September 1886, bahkan ada satu lukisannya yang terpajang di jendela pada Juli 1887. Tanguy juga berhasil menjual satu lukisan Van Gogh saat ia tinggal di Paris. Pada tahun 1889, Theo bahkan menyewa ruang penyimpanan dari Tanguy untuk karya Van Gogh karena pindah rumah.

   Van Gogh membuat tiga potret minyak pada kanvas dan beberapa sketsa yang menggambarkan Père Tanguy, yang menunjukkan perkembangan gaya seni dirinya selama masa tinggal di Paris. Potret pertama dibuat pada tahun 1887 dengan gaya yang masih cenderung gelap dan muram serta komposisi yang sederhana, mencerminkan pengaruh awal dari latar belakang Belanda-nya dan fokus pada kesedihan, martabat, serta kebaikan alami Tanguy sebagai sosok yang selalu membantu seniman muda. Potret kedua yang dibuat pada musim gugur tahun yang sama mulai memperkenalkan elemen cetakan kayu Jepang sebagai latar belakang, yang mulai banyak dikoleksi oleh Van Gogh dan saudaranya Theo. Gaya menjadi lebih cerah dengan penggunaan warna pelengkap yang kontras, dan karya ini kini disimpan di Van Gogh Museum, Amsterdam.

  Potret ketiga yang juga dibuat pada musim gugur 1887 menjadi versi yang paling ikonik, berukuran 92 cm × 75 cm. Karya ini disimpan di Musée Rodin, Paris dan dipajang secara tetap di lantai satu, Ruang 12. Van Gogh menggunakan gaya Neo-Impressionis dengan sapuan kuas yang terlihat dan ruang gambar yang datar, menggambarkan Tanguy dalam pose frontal dengan tangan bersilang di perut seolah-olah seorang bijak Jepang. Latar belakangnya penuh dengan cetakan kayu Jepang karya Hiroshige dan Hokusai, yang menunjukkan pengaruh Japonisme yang kuat. Melalui karya ini, Van Gogh menghormati Tanguy dengan mengangkatnya sebagai simbol sosok yang menghubungkan dunia seni Eropa dan Jepang. Auguste Rodin yang membeli lukisan ini pada tahun 1894 bahkan menyatakan bahwa Van Gogh adalah "pembongkar formula akademis yang luar biasa dengan kejeniusan dalam menangkap cahaya".

   Karya-karya potret Père Tanguy dapat dilihat langsung di beberapa museum ternama di dunia, antara lain Musee Rodin, di Paris dan Van Gogh Museum, Amsterdam.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id