Breaking News

Nikolai Leskov: Gema Suara Rakyat dari Pelosok Rusia Oleh: Hamid Nabhan


   Jika sastra Rusia abad kesembilan belas sering kali dianggap sebagai panggung bagi pergulatan filsafat yang berat, maka Nikolai Semyonovich Leskov adalah sosok yang membawa panggung itu kembali ke tanah, ke gang-gang sempit, biara-biara terpencil, dan keriuhan pasar rakyat. Lahir pada 16 Februari 1831 di Gorokhovo, Leskov tidak tumbuh dalam lingkungan akademis yang kaku, melainkan dalam dekapan tradisi lisan yang kental. Masa kecilnya adalah campuran antara kemewahan singkat keluarga bangsawan rendah dan pengamatan tajam terhadap kehidupan para petani setelah usaha ayahnya bangkrut. Pengalaman awal inilah yang membentuk pendengarannya menjadi sangat peka terhadap dialek, pepatah, dan cara bicara rakyat jelata yang kelak ia abadikan dalam gaya bahasa Skaz—sebuah teknik bercerita yang lincah dan meledak-ledak, seolah-olah pembaca sedang mendengarkan langsung penuturan seorang pengelana di depan perapian.

   Berbeda dengan rekan sejawatnya seperti Tolstoy atau Turgenev yang mendekati rakyat melalui teori universitas, Leskov mengenal Rusia melalui jalur perdagangan. Selama bertahun-tahun ia bekerja di perusahaan Inggris milik kerabatnya, menempuh ribuan kilometer ke seluruh pelosok negeri untuk urusan bisnis. Perjalanan ini adalah "universitas" yang sesungguhnya baginya. Ia tidak sekadar mempelajari rakyat; ia hidup di antara mereka. Dari sinilah lahir karakter-karakter yang luar biasa jujur, mulai dari pandai besi buta huruf yang jenius dalam The Steel Flea hingga sosok perempuan penuh gairah dan kekerasan dalam Lady Macbeth of Mtsensk. Leskov memiliki kemampuan unik untuk menjalin realisme sosial yang pahit dengan elemen satir dan fantasi, menciptakan sebuah mosaik masyarakat Rusia yang paling lengkap dan berwarna yang pernah ada dalam sejarah literatur.

   Namun, kejujuran Leskov sering kali membuatnya menjadi sosok yang kontroversial dan disalahpahami. Ia adalah seorang penyendiri dalam peta politik Rusia; ia dikritik oleh kelompok radikal kiri karena dianggap terlalu konservatif, namun juga dicurigai oleh otoritas gereja dan negara karena satir-satirnya yang tajam terhadap korupsi birokrasi serta kemunafikan para pendeta. Leskov adalah suara hati yang adil; ia tidak ragu membela hak-hak kaum minoritas Yahudi di saat antisemitisme merajalela, atau mengkritik disiplin militer yang kaku melalui kisah-kisah yang menyentuh nurani. Baginya, agama bukanlah ritual lahiriah yang kosong, melainkan moralitas batin yang tercermin dalam perbuatan baik yang nyata, sebuah pandangan yang membuatnya merasa sangat dekat dengan pemikiran Leo Tolstoy di akhir hayatnya.

   Hingga kematiannya di St. Petersburg pada tahun 1895, Leskov tetap menjadi "penyihir kata-kata" yang sulit dikategorikan. Ia adalah pembela keberagaman budaya Rusia yang melihat keindahan dalam setiap dialek dan keunikan etnis. Meski sempat terlupakan di bawah bayang-bayang raksasa sastra lainnya, waktu akhirnya membuktikan kebenaran ramalan Tolstoy bahwa Leskov adalah "penulis untuk masa depan". Karyanya tidak hanya bertahan sebagai dokumen sejarah, tetapi tetap hidup sebagai nyanyian yang merayakan martabat manusia di tengah kerasnya kehidupan. Nikolai Leskov telah berhasil menangkap gema suara dari pelosok-pelosok terjauh Rusia dan mengubahnya menjadi warisan sastra dunia yang abadi, mengingatkan kita bahwa cerita yang paling jujur selalu datang dari mereka yang berani mendengarkan denyut jantung rakyatnya sendiri.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id