Breaking News

Nikolai Gogol: Sang Pelopor Realisme yang Menyatukan Kesenian dan Misteri dalam Sastra Rusia Oleh: Hamid Nabhan

   Nikolai Vasilevich Gogol (1 April 1809 – 4 Maret 1852) adalah sastrawan kelahiran Ukraina yang menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan sastra Rusia abad ke-19. Meskipun ia tumbuh dengan latar belakang budaya Ukraina yang kaya akan cerita rakyat dan tradisi Cossack, ia memilih menulis dalam bahasa Rusia dan berhasil menjadi pelopor aliran realisme yang kemudian menjadi dasar bagi generasi sastrawan besar berikutnya. Apa yang membuat Gogol berbeda adalah kemampuannya untuk menyatukan gambaran realistis tentang kehidupan masyarakat Rusia dengan unsur kesenian yang kaya dan nuansa misteri yang unik, menjadikannya sosok yang tak terlupakan dalam sejarah sastra dunia.

   Gogol lahir di desa Sorochyntsi, Poltava Governate (sekarang termasuk wilayah Ukraina) dalam sebuah keluarga bangsawan kecil. Ayahnya, Vasily Gogol-Yanovsky, adalah keturunan Cossack Ukraina yang juga seorang penulis drama dan puisi dalam bahasa Ukraina. Sedangkan ibunya, Maria Ivanovna, berasal dari keluarga dengan darah Polandia. Keluarganya berbicara kedua bahasa—Ukraina dan Rusia—sehingga Gogol tumbuh terpapar dua budaya yang berbeda namun saling berhubungan dalam wilayah Kekaisaran Rusia kala itu. Meskipun memiliki akar budaya yang kuat di Ukraina, Gogol secara sadar memilih untuk mengembangkan karir sastra dalam bahasa Rusia. Hal ini bukan berarti ia meninggalkan identitas Ukraina-nya—justru banyak elemen budaya Ukraina seperti cerita rakyat, tradisi pertanian, dan kehidupan desa yang menjadi inspirasi utama dalam karyanya awal. Namun, dengan menulis dalam bahasa Rusia, ia berhasil menjangkau khalayak yang lebih luas dan berkontribusi pada perkembangan sastra nasional Rusia, yang kemudian menjadikannya diakui sebagai salah satu sastrawan besar Rusia. Ia melihat bahwa melalui bahasa Rusia, karyanya dapat menyampaikan pesan yang lebih mendalam tentang realitas kehidupan di wilayah Kekaisaran Rusia secara keseluruhan.

   Selama masa kecilnya di pedesaan Ukraina, Gogol tumbuh dengan suasana yang penuh dengan cerita rakyat, legenda tentang iblis dan penyihir, serta kehidupan masyarakat desa yang sederhana namun kaya warna. Ayahnya yang suka menulis dan berperan dalam drama desa menjadi salah satu inspirasi awal yang membuatnya tertarik pada dunia sastra dan teater. Di sekolah menengah di Nezhin, ia bahkan dikenal karena kemampuannya dalam berakting dan menulis naskah kecil untuk pentas sekolah. Namun, prestasinya di sekolah tidaklah mencolok—bahkan hanya berada di tingkat sedikit di atas rata-rata, terutama dalam pelajaran tata bahasa Rusia. Meskipun demikian, hasratnya terhadap sastra terus berkobar. Pada tahun 1828, ia memutuskan untuk pindah ke St. Petersburg dengan impian menjadi penulis terkenal. Awal perjalanannya di kota besar ini tidaklah mudah: puisi romantis pertamanya Hans Küchelgarten (Hanz Küchelgarten, yang berarti "Kebun Hans Küchel") yang diterbitkan dengan biaya sendiri mendapat kritik yang sangat keras hingga ia membakar semua salinannya dan bersumpah tidak akan pernah menulis puisi lagi.

   Setelah kegagalan puisi pertamanya, Gogol beralih ke prosa dan mulai menulis cerita yang terinspirasi oleh kenangan masa kecilnya di Ukraina. Pada tahun 1831–1832, ia menerbitkan kumpulan cerita berjudul Malam-malam di Pertanian Dekat Dikanka yang langsung sukses besar. Karya ini menggabungkan unsur romantis, misteri, dan nuansa rakyat yang segar, dengan banyak menggunakan kata-kata bahasa Ukraina yang membuat gaya tulisannya menjadi unik dan menarik. Kemudian pada tahun 1835, ia menerbitkan dua kumpulan cerita lagi: Mirgorod dan Arabesques. Mirgorod berisi cerita seperti "Taras Bulba" yang menggambarkan keberanian dan tradisi Cossack masa lalu, serta "Bagaimana Dua Ivan Bertengkar" yang penuh dengan kritikan halus tentang kehidupan masyarakat kecil yang dihadapkan pada berbagai kesulitan, sekaligus menggambarkan sisi vulgaritas dan sikap sempit yang muncul dalam kehidupannya sehari-hari. Sementara itu, Arabesques berisi cerita-cerita berlatar St. Petersburg seperti "Buku Harian Seorang Gila", "Nevsky Prospekt", dan "Hidung" yang mulai mengeksplorasi tema alienasi, ketidakadilan birokrasi, dan unsur surrealisme yang menjadi ciri khasnya.

   Pada tahun 1836, drama satirnya yang berjudul Revizor dalam bahasa Rusia diterbitkan. Di Indonesia, karya ini dikenal dengan beberapa judul terjemahan, yaitu Inspektur Jenderal, atau lebih populer dengan judul Tamu Agung setelah diadaptasi menjadi film oleh Usmar Ismail pada tahun 1955. Drama ini dengan sangat tajam mengkritik korupsi dan ketidakkompetenan birokrasi pemerintah provinsi, meskipun Gogol sendiri sebenarnya seorang yang konservatif dan setia pada monarki. Karya ini menimbulkan kontroversi yang membuatnya terpaksa melarikan diri ke Roma, di mana ia menghabiskan sebagian besar waktu selama dua belas tahun dan menulis karya magnum opus-nya: Jiwa-jiwa Mati. Jiwa-jiwa Mati yang terbit pada tahun 1842 dianggap sebagai novel modern Rusia yang pertama dan menjadi puncak karirnya. Novel ini mengisahkan seorang penipu bernama Chichikov yang membeli "jiwa-jiwa mati"—yaitu petani yang sudah meninggal namun belum tercatat dalam sensus—dari para tuan tanah untuk digunakan sebagai modal. Melalui karakter-karakter yang unik dan penuh dengan kritik sosial, Gogol berhasil menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Rusia kala itu dengan sangat mendalam. Pada tahun yang sama, ia juga menerbitkan cerpen "Mantel" yang menceritakan tragedi seorang pekerja kantoran biasa yang kehilangan mantel baru yang menjadi harapannya. Karya ini begitu berpengaruh hingga Fyodor Dostoevsky menyatakan dengan kalimat yang sangat terkenal: "Kita semua keluar dari bawah mantel besar Gogol".

   Pengaruh Gogol dalam sastra Rusia sangat besar. Ia dianggap sebagai pelopor aliran realisme yang kemudian dikenal sebagai "sekolah alamiah", yang mengajarkan para sastrawan untuk menggambarkan kehidupan dengan sesungguhnya, termasuk sisi yang tidak menyenangkan. Banyak sastrawan besar setelahnya seperti Dostoevsky, Leo Tolstoy, dan Mikhail Saltykov terinspirasi oleh gaya tulisannya dan cara ia mengangkat tokoh "orang kecil" menjadi protagonis yang penting. Namun, pada akhir kehidupannya, Gogol menjadi semakin terpengaruh oleh agama Kristen Ortodoks yang konservatif dan seorang pendeta fanatik bernama Matthew Konstantinovskii. Ia mulai merasa bahwa karya sastranya adalah sesuatu yang berdosa dan berusaha untuk melakukan regenerasi rohani. Pada malam 24 Februari 1852, ia membakar seluruh naskah bagian kedua Jiwa-jiwa Mati yang sudah hampir selesai. Setelah itu, ia menolak makan dan tidur, hingga akhirnya wafat sembilan hari kemudian pada usia 42 tahun. Saat dikuburkan kembali pada tahun 1931, jasadnya ditemukan terbaring dengan wajah menghadap ke bawah, yang menimbulkan rumor bahwa ia telah dikubur hidup-hidup—suatu hal yang memang menjadi ketakutan besarnya sepanjang hidupnya.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id