Pernahkah kita merasa ada momen berharga dalam hidup yang perlahan menghilang dari ingatan? Atau sering merasa terjebak dalam kekacauan pikiran dan emosi yang sulit diurai? Banyak orang tidak menyadari bahwa jawaban untuk mengatasi hal ini bisa ditemukan dalam aktivitas yang tampak sederhana namun penuh kekuatan yaitu 'menulis'. Bukan hanya sebagai pekerjaan atau hobi bagi sebagian kalangan, menulis adalah cara yang efektif untuk merawat apa yang kita alami dan membantu kita mengenali diri sendiri dengan lebih dalam. Banyak tokoh dan penulis telah menyadari nilai luar biasa dari aktivitas ini, bahkan mengungkapkannya dalam kata-kata bijak yang mampu menginspirasi siapa saja yang membacanya.
Setiap cerita yang kita tulis dan setiap catatan yang kita buat adalah bentuk upaya untuk mengabadikan waktu serta perasaan yang menyertainya. JK Rowling, penulis terkenal yang menciptakan dunia sihir Harry Potter, pernah mengatakan bahwa menulis adalah cara untuk mengabadikan bukan hanya kejadian yang dialami, tetapi juga semua emosi dan makna yang tersembunyi di baliknya—hal ini membuat setiap momen yang kita tulis tidak akan pernah hilang begitu saja dari ingatan kita. Ketika kita menuangkan apa yang kita alami ke dalam kata-kata, memori kita akan tersimpan dengan lebih rapi dibandingkan hanya mengandalkan ingatan saja. Berbeda dengan foto atau video yang hanya menangkap bentuk visual dari sebuah peristiwa, tulisan memiliki kemampuan untuk menyimpan nuansa dan rasa yang jauh lebih mendalam. Bahkan Buya Hamka, salah satu tokoh agama dan sastra besar Indonesia yang telah menulis banyak karya penting, pernah menyampaikan bahwa "Menulis adalah menyimpan pemikiran agar tidak hilang, dan menyebarkan ilmunya agar bermanfaat bagi banyak orang." Kalimat ini tidak hanya menunjukkan bahwa menulis merawat ingatan kita, tetapi juga bahwa jejak pikiran dan karya kita akan tetap ada dan memberi manfaat bagi orang lain seiring berjalannya waktu.
Selain berperan sebagai wadah untuk merawat ingatan, menulis juga memiliki peran penting dalam mengasah kesadaran kita terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Ketika kita mulai menuliskan pikiran serta perasaan yang ada di dalam hati, kita secara tidak sengaja sedang mengatur ulang ide-ide yang awalnya kusut menjadi sesuatu yang lebih terstruktur dan mudah dipahami. Seperti yang dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa melawan kesunyian dalam diri berarti berani menghadapi apa yang sebenarnya kita rasakan; menulis memaksa kita untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari dan benar-benar mendengarkan suara-suara batin yang seringkali terabaikan. Proses ini membuat kita lebih peka terhadap apa yang kita inginkan, apa yang kita butuhkan, dan bahkan apa yang membuat kita merasa bahagia atau sedih. Filsuf terkenal Rene Descartes juga menyatakan bahwa membaca buku yang baik bagaikan berkomunikasi dengan para cendikiawan terhebat dari masa lampau, dan ketika kita mulai menulis, itu adalah cara untuk berbicara dengan diri kita sendiri. Ketika kita menulis, kita tidak hanya menyampaikan pesan kepada pembaca yang mungkin akan membacanya kelak, tetapi juga melakukan refleksi mendalam yang membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih jelas.
Tidak perlu merasa takut atau menunggu kesempatan yang sempurna untuk mulai menulis, juga tidak harus merasa harus menjadi penulis ahli terlebih dahulu. Seperti yang pernah disampaikan bahwa praktik yang konsisten adalah hal yang paling penting dalam mengembangkan kemampuan menulis; kita bisa mengambil topik dari apa saja yang ada di sekitar kita—mulai dari kehidupan sehari-hari, hobi yang kita gemari, hingga hal-hal yang membuat kita merasa bingung atau penasaran. Mulailah dengan hal yang sederhana, seperti menulis jurnal harian setiap pagi, mencatat momen kecil yang membuat kita tersenyum, atau bahkan menuliskan ide-ide yang muncul secara tiba-tiba di kepala. Setiap kata yang kita tulis adalah investasi berharga untuk merawat ingatan kita dan mengasah kesadaran terhadap diri sendiri. Ingatlah bahwa tujuan utama dari menulis bukanlah menghasilkan karya yang sempurna, tetapi lebih pada proses menemukan diri kita dan menjaga segala hal yang penting bagi kita agar tidak hilang ditelan zaman.
Surabaya, 7 Februari 2026
*Ilustrasi: Little Boy writing a letter karya pelukis Norman Rockwell

Social Header