Breaking News

Mengapa Kaisar Hirohito Bertanya Jumlah Guru, Bukan Jumlah Tentara yang Tersisa? Oleh: Hamid Nabhan


   Pada tanggal 6 Agustus 1945, sebuah kilatan terang menyambar langit kota Hiroshima, diikuti oleh ledakan dahsyat yang menghancurkan hampir seluruh permukaan kota. Tujuh hari kemudian, Nagasaki mengalami nasib yang sama. Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat menjadikan kedua kota itu luluh lantak, membawa Jepang pada titik nadir dalam sejarahnya. Ribuan nyawa melayang, gedung-gedung roboh, industri berhenti, dan transportasi lumpuh total. Ketika berita kehancuran itu sampai ke Istana Kekaisaran, suasana dalam ruang rapat militer sangat suram. Para jenderal sudah siap menjawab segala pertanyaan tentang jumlah tentara yang gugur, persediaan senjata yang tersisa, atau langkah-langkah pertahanan selanjutnya. Namun, pertanyaan yang keluar dari mulut Kaisar Hirohito benar-benar membuat mereka terkejut – bukan tentang jumlah tentara yang tewas, bukan tentang pasukan yang masih bisa bertempur, tapi “Berapa jumlah guru yang tersisa?”

   Suasana dalam ruang rapat langsung menjadi hening. Para jenderal yang telah siap dengan data-data militer terkejut tidak sanggup berkata apa-apa untuk beberapa saat. Mereka tidak mengerti mengapa sang Kaisar justru menanyakan hal yang sepertinya tidak terlalu penting di tengah kekacauan pasca-bom atom. Pada saat itu, Jepang mengalami kerugian yang tak terhitung jumlahnya – ekonomi terpuruk, infrastruktur hancur lebur, dan rakyatnya hidup dalam ketakutan serta kesusahan. Para jenderal awalnya beranggapan bahwa sang Kaisar akan fokus pada kondisi militer negara, mengingat mereka baru saja mengalami kekalahan telak dalam Perang Dunia II.

   Namun, Kaisar Hirohito kemudian menjelaskan alasan di balik pertanyaan itu. Ia mengatakan bahwa Jepang telah jatuh bukan karena kekurangan kekuatan militer, melainkan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang dunia yang terus berkembang. “Kita kuat dalam senjata dan strategi perang,” ucapnya, “namun kita tidak tahu bagaimana cara membuat bom yang dahsyat seperti yang telah menghancurkan kita. Kita gagal karena tidak belajar dengan cukup giat.” Ia menambahkan bahwa kekuatan militer hanya bisa bertahan untuk sementara waktu, tetapi pengetahuan yang diberikan guru akan menjadi aset abadi bagi negara.

   Pada saat itu, hanya sekitar 45.000 guru yang tersisa di seluruh Jepang. Kaisar kemudian menyampaikan bahwa kepada gurulah seluruh rakyat Jepang harus bertumpu, bukan pada kekuatan pasukan. Ia mengimbau para jenderal untuk mengumpulkan seluruh guru yang tersisa dari seluruh pelosok negara, memberikan mereka dukungan penuh, dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama negara. Para guru yang dikumpulkan kemudian diberi arahan untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik, menyiapkan generasi muda agar tidak pernah mengalami kegagalan yang sama.

   Keputusan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah Jepang. Dunia sebelumnya memperkirakan negara itu akan membutuhkan minimal 50 tahun untuk pulih dari kehancuran, namun dengan fokus pada pendidikan dan peran guru, Jepang berhasil bangkit menjadi salah satu negara maju hanya dalam kurun waktu 20 tahun. Keberhasilan itu tidak lepas dari penghargaan dan perhatian yang diberikan kepada guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang membangun dasar bagi masa depan bangsa.

   Seperti yang telah dikemukakan oleh UNESCO, guru yang terlatih dengan baik, didukung, dan dihargai memainkan peran sentral dalam memastikan pendidikan berkualitas bagi setiap pembelajar. Sebuah pernyataan yang dikenal luas menyatakan, “Mengajar adalah satu-satunya profesi yang menciptakan semua profesi lain.” Pepatah Jepang juga mengatakan, “Lebih baik satu hari belajar dengan guru hebat daripada seribu hari belajar dengan tekun.” Konfusius menegaskan, “Pendidikan melahirkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri melahirkan harapan. Harapan melahirkan perdamaian.” Sementara itu, Nelson Mandela mengungkapkan, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia.” Di Inggris, guru biasanya memiliki kualifikasi formal dan mengikuti pembelajaran profesional berkelanjutan. Sementara di Indonesia, kita mengenal guru sebagai sosok yang tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan menjadi teladan bagi generasi muda.

   Kisah Kaisar Hirohito yang menghargai guru bukan hanya cerita tentang masa lalu, tetapi juga pelajaran bagi kita semua. Jika sebuah negara ingin maju dan berkembang, penghargaan terhadap guru harus menjadi prioritas. Seperti yang telah dibuktikan oleh Jepang, peran guru tidak bisa dianggap remeh – mereka adalah pondasi bagi kemajuan bangsa, pembentuk karakter generasi penerus, dan sumber pengetahuan yang akan membawa kita menuju masa depan yang lebih baik.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id