Breaking News

Melihat Warna Lewat Kata: Membaca Lukisan Vincent dari Suratnya Oleh Hamid Nabhan

  Membaca surat-surat Vincent van Gogh adalah cara terbaik untuk memahami bahwa setiap goresan kuasnya bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Melalui kata-katanya, kita diajak masuk ke dalam kepalanya saat ia berdiri di depan kanvas putih, berusaha menangkap getaran warna yang ia rasakan di alam. Salah satu momen paling menarik adalah saat ia membedah pemandangan padang rumput hijau yang luas. Baginya, pemandangan itu bukan sekadar hamparan tanah, melainkan sebuah simfoni warna yang rumit. Ia menceritakan bagaimana kabut berwarna ungu pucat menyelimuti matahari yang mengintip malu-malu di balik awan ungu tua dengan garis merah yang menyala. Baginya, warna memiliki skala getarannya sendiri; dari kuning yang bergradasi menjadi hijau, hingga biru azure yang paling halus di langit tertinggi.

   Vincent tidak hanya melihat satu warna pada satu objek. Di matanya, tanah yang kita injak adalah sebuah "permadani" yang ditenun dari perpaduan abu-abu, cokelat, dan hijau yang penuh dengan kehidupan. Ia menceritakan dengan sangat detail bagaimana air di parit berkilauan di atas tanah liat, sebuah detail kecil yang mungkin luput dari mata orang biasa namun menjadi jantung bagi lukisannya. Obsesinya terhadap kekuatan warna ini sering kali membuatnya melampaui batas aturan seni pada masanya. Ia tidak ragu untuk menggunakan cat secara boros, menekannya langsung dari tube ke atas kanvas demi memberikan tekstur dan kekuatan pada akar pohon yang ia lukis. Baginya, cat yang tebal dan kasar adalah cara terbaik untuk menunjukkan betapa kokohnya alam mencengkeram bumi.

   Keunikan lain yang terungkap dari suratnya adalah pengakuannya bahwa ia melukis dengan sangat cepat, seolah sedang dikejar oleh setan. Ia menyebut proses ini sebagai "stenografi" alam. Vincent menyadari bahwa cahaya dan suasana hati alam berubah dalam hitungan menit, sehingga ia harus segera menangkap pesan itu sebelum hilang. Itulah sebabnya lukisannya sering kali tampak kasar dan tidak selesai di mata para kritikus akademis. Namun, Vincent dengan tegas membela gayanya; ia lebih memilih lukisannya memiliki "nyawa" dan kejujuran emosional daripada terlihat halus dan mengkilap seperti pernis namun hampa rasa. Ia bahkan sengaja melakukan penyimpangan anatomi atau perspektif, menyebutnya sebagai "kebohongan" yang justru lebih benar daripada realitas yang dingin.

   Melalui surat-suratnya, kita akhirnya mengerti bahwa bagi Vincent, melukis adalah cara dia berbicara ketika kata-kata tidak lagi cukup. Ia ingin setiap orang yang melihat karyanya bisa merasakan kehangatan matahari musim gugur yang ia rasakan, atau kedamaian yang ia bangun di dalam kamar tidurnya yang berwarna violet dan kuning. Membaca lukisan Vincent lewat suratnya membuat kita sadar bahwa setiap warna yang ia goreskan adalah sebuah kata, dan setiap kanvasnya adalah sebuah surat cinta panjang yang ia tulis untuk dunia yang sering kali gagal memahaminya.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id