Marie Laurencin lahir pada 31 Oktober 1883 di kota Paris, Prancis. Sebagai anak luar nikah yang dibesarkan oleh ibunya seorang penjahit, ia tumbuh dengan lingkungan yang sederhana namun mendapatkan kesempatan pendidikan tingkat menengah atas berkat dukungan ayahnya yang tidak tinggal bersamanya. Meskipun awalnya tidak terpikirkan untuk menjadi seniman, bakatnya dalam menggambar mulai terlihat ketika ia diminta melukis cangkir teh oleh ibunya di masa remaja. Pada usia 18 tahun, Marie pindah ke Sèvres untuk belajar melukis pada porselen atau keramik. Pengalaman ini menjadi dasar awalnya dalam memahami warna dan bentuk, yang kemudian membawa dia kembali ke Paris untuk mengejar pendidikan seni yang lebih mendalam. Tahun 1903 hingga 1904, ia mendaftar di Akademi Humbert, sebuah lembaga pendidikan seni yang menjadi tempat bertemunya dengan seniman masa depan seperti Georges Braque – salah satu pendiri gerakan Kubisme. Selama masa belajarnya, Marie juga mulai menghadiri pertemuan-pertemuan di salon Natalie Barney, sebuah lingkaran sastra dan seni yang dihuni oleh perempuan lesbian dan biseksual. Di sinilah dia menemukan inspirasi awal untuk menggambarkan dunia perempuan yang penuh dengan kehangatan dan hubungan yang mendalam. Pada tahun 1905, ia membuat karya cetakan pertama yang berjudul Song of Bilitis, yang terinspirasi oleh teks erotis tentang cinta sapphic*, menjadi awal dari fokusnya pada tema perempuan. Pada tahun 1907, melalui pedagang seni Clovis Sagot,
Marie diperkenalkan pada Pablo Picasso dan kemudian masuk ke dalam lingkaran seniman avant-garde yang berkumpul di Bateau-Lavoir, Montmartre. Dia juga menjalin hubungan asmara dengan penyair Guillaume Apollinaire, yang menyebutnya dengan julukan "Our Lady of Cubism" dan membantu memperkenalkan karyanya ke dalam dunia seni yang didominasi pria. Meskipun sering berpartisipasi dalam pameran bersama seniman Kubis dan bahkan menjadi satu-satunya perempuan yang karyanya termasuk dalam Maison Cubiste pada tahun 1911, Marie tidak sepenuhnya mengikuti gaya Kubisme. Ia hanya mengambil beberapa elemen dari gerakan tersebut dan mengembangkan gaya sendiri yang lebih lembut, menggunakan palet warna pastel seperti merah muda, biru muda, dan abu-abu yang menjadi ciri khasnya. Karyanya yang menggambarkan sosok perempuan anggun dengan ekspresi merenung mulai dikenal luas, dan Gertrude Stein – salah satu kolektor seni avant-garde terkemuka – menjadi salah satu pembeli pertama karyanya. Pada tahun 1914, Marie menikahi bangsawan Jerman Baron Otto von Wätjen dan harus mengungsi ke Spanyol selama Perang Dunia I karena status kewarganegaraannya yang berubah menjadi Jerman.
Di masa pengungsian itu, dia mengembangkan gaya seni yang lebih matang dan terpengaruh oleh karya seniman seperti Francisco Goya. Setelah bercerai pada tahun 1920, dia kembali ke Paris dan menggelar pameran tunggal yang sangat sukses di Galeri Paul Rosenberg pada tahun 1921. Selama tahun 1920-an hingga awal 1930-an, Marie menjadi salah satu seniman perempuan paling sukses di Prancis. Ia menerima pesanan potret dari tokoh terkenal seperti Coco Chanel dan Helena Rubinstein, mendesain kostum dan panggung untuk Ballets Russes terutama untuk balet Les Biches pada tahun 1924, serta mengilustrasikan buku-buku terkenal seperti Alice in Wonderland karya Lewis Carroll. Pada tahun 1935, ia dianugerahi gelar Chevalier of the Légion d’Honneur, dan pada tahun 1949 dinaikkan menjadi Perwira Légion d’Honneur sebagai pengakuan atas kontribusinya terhadap budaya nasional Prancis.
Marie Laurencin tetap tinggal di Paris bahkan selama Perang Dunia II dan terus berkarya hingga akhir hayatnya. Pada tahun 1954, ia mengadopsi penjaga rumahnya Suzanne Moreau – yang juga menjadi pasangannya seumur hidup – untuk menjamin hak keluarga dalam masa sebelum perkawinan sesama jenis diizinkan. Ia wafat karena serangan jantung pada 8 Juni 1956 di Paris dan dimakamkan di pemakaman Père-Lachaise dengan surat cinta dari Apollinaire dan seikat mawar di tangannya. Meskipun popularitasnya sedikit menurun setelah wafatnya, karya Marie Laurencin kembali mendapatkan perhatian luas sejak tahun 1970-an berkat penelitian dari sejarawan seni feminis dan queer. Pada tahun 1983, Musée Marie Laurencin dibuka di Nagano, Jepang – menjadi museum pertama di dunia yang khusus didedikasikan untuk seorang seniman perempuan. Hingga kini, karyanya tetap menjadi bukti bahwa seni yang mengangkat tema tentang perempuan dan menggunakan estetika yang dianggap "lembut" bisa menjadi sarana revolusioner yang mengubah cara kita melihat sejarah seni modern Prancis.
*Cinta sapphic: Istilah untuk cinta atau hubungan antara perempuan, berasal dari nama penyair kuno Yunani Sappho yang terkenal dengan puisi tentang cinta antar perempuan.



Social Header