Lukisan tidak sekadar kumpulan cat di atas kanvas. Banyak di antaranya menyimpan cerita, teknik, dan makna yang mampu menarik perhatian penonton serta pecinta seni dari berbagai kalangan. Bahkan dalam sebuah grup seni yaitu "Komunitas Perupa Jawa Timur" yang saya ikuti, salah satu sahabat saya dengan tegas menyampaikan pendapatnya – ia mengatakan bahwa "lukisan memang misteri." Kata-katanya itu menjadi dasar awal yang membuat saya ingin menggali lebih dalam tentang apa yang membuat sebuah lukisan begitu menarik dan penuh misteri.
Menurut Gregg Kreutz (artis figuratif New York yang juga dikenal sebagai penulis buku tentang teknik melukis), misteri adalah elemen penting yang membuat lukisan lebih menarik dan mampu menyentuh hati penonton. Banyak seniman yang fokus pada masalah teknis seperti anatomi, perspektif, dan komposisi, namun lukisan yang sempurna secara teknis bisa saja tidak memiliki daya tarik mendalam jika kurang unsur misteri. Pengalaman Kreutz ketika menemukan mahasiswa yang melukis model dalam kegelapan juga menunjukkan bahwa keabstrakan dan ketidaktentuan bentuk bisa menjadi sumber misteri yang kuat – mereka tidak melukis apa yang jelas terlihat, melainkan apa yang dirasakan dan ditebak.
Sementara itu, John Robertson Reid (pelukis Skotlandia abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dikenal dengan karya lanskap dan kehidupan pedesaan) menekankan bahwa misteri dalam seni tidak bisa dipahami secara logis atau dijelaskan dengan aturan baku.
Ada banyak contoh lukisan yang dikenal karena misterinya yang mengundang rasa ingin tahu. The Scream (Jeritan) karya Edward Munch (pelukis Norwegia pelopor ekspresionisme) misalnya, dengan warna suram dan sosok yang tampak ketakutan, membuat banyak orang bertanya-tanya tentang inspirasinya – apakah berasal dari letusan gunung Krakatau, halusinasi sang seniman, atau peringatan tentang kerusakan alam. The Girl with the Pearl Earring karya Johannes Vermeer (pelukis Zaman Emas Belanda) juga tak kalah misterius; sosok gadis yang menoleh ke penonton membuat identitas dan maksudnya tetap menjadi misteri. Tak hanya itu, beberapa lukisan menyembunyikan karya lain di bawahnya – seperti The Blue Room dan The Old Guitarist milik Pablo Picasso (seniman Spanyol pelopor kubisme), serta Patch of Grass karya Vincent van Gogh (pelukis Belanda pos-impresionisme) yang menyimpan wajah wanita petani di baliknya. Bahkan The Creation of Adam karya Michelangelo Buonarroti (seniman Italia Zaman Renaisans) memiliki bentuk tempat tinggal Tuhan yang mirip struktur otak manusia, padahal pada masa itu ilmu tentang organ tersebut belum sepenuhnya diketahui dan pembedahan mayat dilarang.
Misteri dalam lukisan juga sering diperkuat ketika karya itu memasuki dunia lelang. Banyak kasus di mana lukisan yang hilang bertahun-tahun tiba-tiba muncul dengan harga mengejutkan, atau dengan cerita bagaimana ia selamat dari perang, bencana alam, atau penyembunyian sengaja. Di grup seni yang saya ikuti, kita sering membahas bagaimana dunia lelang menjadi panggung di mana misteri sebuah lukisan semakin terasa – mulai dari pertanyaan tentang keaslian, riwayat pemilik yang tidak jelas, hingga mengapa nilai karya berbeda di tangan orang yang berbeda.
Seperti yang dikemukakan oleh Cyndi MacMillan (penulis dan pakar hubungan seni visual dengan sastra fiksi), misteri dalam lukisan tidak hanya ada di kanvas itu sendiri, melainkan juga dalam bagaimana ia menginspirasi cerita baru dan perspektif berbeda. Setiap orang yang melihat lukisan bisa memiliki interpretasi sendiri yang tak kalah menarik dengan cerita aslinya, menjadikan misteri dalam lukisan bukan hanya tentang apa yang tersembunyi, melainkan juga tentang bagaimana karya itu hidup dan berkembang bersama sejarah manusia.
Lukisan memang misteri – seperti yang telah dikatakan oleh sahabat saya di grup seni. Ini bukan hanya tentang harga, cerita atau teknik semata, melainkan juga tentang ruang yang diciptakan untuk rasa kagum dan keheranan. Semua itu menjadikan lukisan tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga bagian dari sejarah yang terus berkembang dan menyimpan banyak hal yang belum terungkap sepenuhnya.
Surabaya, 23 Februari 2026

Social Header