Layar hp yang menyala terang di tengah kegelapan menjelang subuh seolah menjadi saksi bisu dari kabar yang datang. Kata-kata di dalamnya singkat, namun jelas, tentang seorang teman pelukis yang berpulang. Sebuah lelayu yang mengingatkan kita semua tentang satu kepastian yang tidak pernah memilih waktu atau tempat yaitu kematian.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang seringkali membuat kita terlena, kematian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan ini. Dalam kitab suci kita diajarkan bahwa "tiap-tiap yang bernapas akan menemui ajalnya". Tak peduli siapa kita, dari mana kita berasal, atau seberapa banyak harta yang kita miliki, akhirnya kita semua akan menghadapinya. Ini adalah titik temu universal yang menyatukan seluruh umat manusia, mengajarkan kita untuk melihat satu sama lain sebagai saudara yang berbagi nasib yang sama, saling mengasihi dan menyayangi.
Secara kemanusiaan, kematian membawa kita pada pemahaman bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini sungguh terbatas. Mungkin hari ini kita masih bisa berbincang, bekerja dan berkarya, serta berbagi cerita dengan orang-orang terdekat, tapi besok belum tentu. Oleh karena itu, setiap detik menjadi berharga untuk diisi dengan kebaikan, tidak hanya sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan, tetapi juga sebagai warisan yang bisa kita tinggalkan bagi sesama. Seperti yang dikutip dari salah satu kata bijak, "Jangan menunda kebaikan, karena kita tak tahu kapan ajal menjemput."
Banyak ajaran agama di dunia juga mengingatkan akan hal yang sama. Pesan tentang ketetapan kematian yang tak bisa diubah adalah sesuatu yang universal, namun di balik itu semua, pesan yang lebih luas adalah tentang bagaimana kita menjalani hidup kita. Hidup yang bermakna bukanlah tentang menghindari kematian, melainkan tentang menyadari bahwa kehidupan ini adalah perjalanan yang harus kita lalui dengan penuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang.
Kematian bukanlah akhir yang harus ditakuti secara berlebihan, melainkan bagian dari alur kehidupan yang mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki saat ini. Ia mengingatkan kita untuk memaafkan, mencintai dengan tulus, dan berbuat baik selagi ada kesempatan. Seperti ungkapan para nabi yang mengatakan, "Kematian bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kisah yang baru."
Lelayu yang datang menjelang subuh itu akhirnya bukan hanya kabar kehilangan, melainkan sebuah renungan yang mendalam – bahwa hidup dan mati adalah dua sisi yang tak terpisahkan, dan yang paling penting adalah bagaimana kita menghiasi setiap langkah dalam perjalanan ini. Bila dilihat dari akar bahasanya Al maut (kematian) bermakna 'sempurna', maka sempurnalah kita sebagai manusia bila kita telah mengalaminya.
Surabaya, 25 Februari 2026

Social Header