Breaking News

L'Arlésienne: Kisah di Balik Serangkaian Potret Madame Ginoux Karya Vincent van Gogh Oleh: Hamid Nabhan


   L'Arlésienne bukan hanya satu buah lukisan, melainkan serangkaian sekitar enam potret yang dibuat Vincent van Gogh antara tahun 1888 hingga 1890. Kata L'Arlésienne sendiri berasal dari bahasa Prancis yang berarti "wanita dari Arles"—inilah sebabnya mengapa seri potret ini diberi nama demikian, bukan merujuk pada nama orang tertentu melainkan sosok wanita khas kota Arles. Salah satu versi yang paling dikenal adalah yang memiliki latar belakang merah muda dengan buku di atas meja hijau, yang secara visual menunjukkan gaya goresan kuas khas Van Gogh. Semua karya ini menggambarkan Marie Ginoux, pemilik Café de la Gare di kota Arles, Prancis—sosok yang tidak hanya menjadi model, tapi juga bagian penting dalam kehidupan dan kreativitas sang seniman.

   Madame Ginoux lahir dengan nama Marie Julien (1848–1911), adalah pemilik kafe yang menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang kesusahan, pemabuk, dan mereka yang tidak mampu membayar kamar hotel. Van Gogh sendiri pernah menginap di kafe tersebut sebelum pindah ke "rumah kuning" nya, dan ketika ia mengalami gangguan mental serta dirawat di rumah sakit pada Desember 1888, Madame Ginoux yang merawatnya. Bersama Paul Gauguin, Van Gogh melukisnya berulang kali, bahkan dari ingatan setelah ia masuk rumah sakit jiwa di Saint-Rémy.

 

   Berbagai versi L'Arlésienne memiliki ciri khas masing-masing; salah satunya yang disimpan di Musée d'Orsay dibuat dalam waktu hanya satu jam—bahkan disebutkan 45 menit dalam surat kepada Theo—dengan latar belakang kuning lemon muda, wajah abu-abu, serta pakaian hitam dan biru Prusia. Van Gogh tidak menyembunyikan kekurangan fisik subjeknya, malahan menekankannya untuk mengungkapkan kualitas kemanusiaannya. Ada juga versi yang disimpan di The Met dengan judul L'Arlésienne: Madame Ginoux with Books, berukuran 91,4 x 73,7 cm dan menjadi milik Madame Ginoux hingga ia menjualnya pada 1895.

   Versi lain yang dibuat pada Februari 1890 disimpan di Museum Kröller-Müller dan Galeria Nazionale Roma, berukuran 65,3 × 49 cm dan 60x50 cm. Van Gogh mengunjungi keluarga Ginoux pada Januari 1890 saat Madame Ginoux dalam kondisi mental tidak baik, dan dua hari kemudian Van Gogh sendiri mengalami gangguan saraf lagi. Selama pemulihannya, ia melukis potret berdasarkan sketsa Gauguin, yang bahkan menyukainya lebih dari karyanya sendiri. Di versi Roma, terdapat buku Uncle Tom’s Cabin dan The Christmas Tales yang mengacu pada nilai empati dan kepekaan.

   Serangkaian lukisan L'Arlésienne tidak hanya menjadi bukti bakat Van Gogh sebagai pelukis potret, tapi juga memberikan wawasan tentang kehidupan batinnya sebelum masa kemunduran. Van Gogh berusaha mencari "ekspresi yang berbeda dari wanita Paris", merujuk pada kontras antara kehidupan kota yang dibuat-buat dengan pedesaan yang alami. Ia menggunakan warna untuk mengungkapkan sifat sebenarnya subjeknya—kehangatan warna mencerminkan perasaan hangatnya terhadap Madame Ginoux, sementara objek seperti buku atau payung memperkaya makna karya. Karya-karya ini telah dipamerkan di berbagai negara dan menjadi bagian penting dalam sejarah seni dunia; salah satunya bahkan terjual dengan harga 36 juta dolar AS pada lelang Christie's tahun 2006. 

Pada akhirnya, L'Arlésienne bukan sekadar potret, melainkan cerminan hubungan Van Gogh dengan dunia sekitarnya serta eksplorasinya terhadap warna dan bentuk untuk menyampaikan emosi. Melalui serangkaian karya ini, Madame Ginoux pun diabadikan sebagai salah satu sosok yang tidak bisa dilepaskan dari cerita hidup dan karya Vincent van Gogh.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id