Vincent Willem van Gogh sebagai seniman lukis, yang pernah hidup dari tanggal 30 Maret 1853 – 29 Juli 1890, merupakan seniman pasca impresionis dan salah satu seniman lukis dunia yang berpengaruh dalam sejarah seni rupa di Eropa.
Pada kali ini, dari semua artikel Hamid Nabhan yang fokus pada penulisan seniman dunia yakni Vincent van Gogh, merupakan penulisan literatur. Terlihat juga dari foto-foto yang disampaikan, penulis juga berkesempatan untuk mendatangi dan mengamati langsung karya-karya Vincent van Gogh di Amsterdam, Belanda. Sehingga dapat diketahui sejauh mana Hamid Nabhan menguasai materi tentang Van Gogh sebagai seniman lukis dunia yang hampir semua orang mengenalinya.
Pada tahun kelahiran Vincent van Gogh yaitu 1853 (abad ke-19) biasanya dilihat dari aspek kebebasan. Pada saat itu, dunia sedang berebut kekuasaan yang tidak hanya pada persoalan politik dan bernegara, tetapi juga menyangkut hal yang berhubungan dengan pribadi seseorang yang dihadapkan pada fenomena kompleks, dengan penguasaan dan penyadaran orang terhadap tubuhnya sendiri. Hal ini dapat dicapai hanya melalui apa yang disebut investasi kekuasaan dalam tubuh. Seseorang dapat berbuat apa saja terhadap dirinya, yang cenderung menjadikan dan menganggap dirinya sebagai sumber kekacauan yang ditimbulkan dari hasil kekuasaan itu.
Hal ini terjadi juga pada diri Vincent van Gogh, yang selalu bermasalah dengan dirinya sendiri hingga akhir hayatnya di usia 37 tahun yang masih tergolong muda. Meskipun sepanjang usia perjalanannya sebagai seniman, dia baru dikenal setelah saudara mudanya Theo van Gogh, istri Theo Johanna Gezina Bonger, serta saudara perempuannya Willemina melakukan usaha untuk mengenalkannya. Theo mengumpulkan surat-surat Vincent van Gogh dan usahanya diteruskan oleh istrinya Johanna setelah Theo meninggal enam bulan kemudian, setelah Vincent meninggal terlebih dahulu.
Melihat dari karya-karya Vincent van Gogh yang menggunakan gaya pasca impresionis dan cenderung bergaya fauvis. Istilah ini diperkenalkan oleh kritikus Prancis Louis Vauxelles terhadap para pelukis yang menggunakan warna-warna yang "barbar" (tegas dan berani) dan sekaligus deformasi dari obyek lukisan. Salah satunya adalah karya Vincent van Gogh.
Karya dengan gaya yang dikenal dengan aliran fauvis yang kemudian menjadi faham Fauvisme berangkat dari usaha menyempurnakan aliran Impresionis, seperti yang terlihat pada karya-karya Vincent van Gogh yang cenderung naturalis dekoratif sekaligus ekspresif. Meskipun aliran fauvisme tidak memperlihatkan teknik yang sama dan konsisten, tetapi memiliki ciri-ciri yang sama yaitu kekuatan warna, garis yang putus-putus, dan penampilan yang tidak teratur (disorganized appearance). Hal ini terlihat pada karya Vincent van Gogh yang berjudul Akar-akar Pohon (Juli 1890) yang tersimpan di Museum Van Gogh, Amsterdam; karya Pohon-pohon Zaitun dengan Perbukitan Alpilles di Latar Belakang (1889) di Museum of Modern Art, New York; serta karya Kenangan Taman di Etten (Para Wanita Arles) (1888) di Museum Hermitage, St. Petersburg, Rusia.
Hal ini dapat dilihat dari garis-garis yang liar dan warna yang berani, menunjukkan kejujuran Vincent van Gogh akan dirinya. Karya-karyanya masih sulit diterima oleh masyarakat pada masa itu karena garis dan warna yang berat dari hasil penggarapannya. Kejujuran ini merupakan kekuatan dirinya yang didapat dari perjalanan hidupnya yang beralih dari satu saudara ke saudara lain, dari satu keluarga ke keluarga lain, hingga dari satu kegiatan ke kegiatan lain – mulai sebagai pedagang seni, kemudian menjadi misionaris, kemudian beralih lagi mempelajari berbagai gaya melukis hingga menemukan teknik warna tebal dan cerah yang mendominasi dalam karya-karyanya dan menjadi ciri khasnya. Ciri khas ini kemudian menjadi acuan pada gaya lukis para seniman Fauvis nantinya.
Vincent banyak menemukan kejanggalan dalam perjalanan hidupnya dan sering merasa kecewa karena hal itu tidak sesuai dengan hati nurani dan pandangan hidupnya. Inilah yang menyebabkan dia menderita psikosis dan delusi hingga akhir hayatnya, sempat masuk rumah sakit jiwa, dan memotong daun telinganya. Kekuatan rasa sakit dan kemampuannya untuk terus berkarya meskipun berada di rumah sakit jiwa adalah kekuatan dalam dirinya yang seolah "menyembuhkan" – merupakan bentuk kontrol represi atau tindakan menekan, menahan, atau mengekang baik secara psikologi maupun fisik sebagai mekanisme pertahanan diri bawah sadar untuk mengubur ingatan atau emosi traumatis yang dialaminya.
Pada kenyataannya, penguasaan diri melalui gagasan represi terkesan berlebihan sekaligus sebagai cara kerjanya melalui berbagai bentuk penindasan, pengasingan, dan pemblokiran dalam bentuk kekuasaan Superego melalui kekuasaan diri yang terkesan negatif. Sebaliknya, bila kekuasaan diri kuat dan sejalan dengan kesadaran kita, akan menghasilkan pengaruh pada tingkat hasrat yang biasanya juga berhubungan dengan tingkat pengetahuan. Vincent van Gogh meskipun berasal dari keluarga misionaris, dengan tingkat hasrat tentang pengetahuan yang tidak dapat diperolehnya karena kesulitan dalam menghindari semua yang mempengaruhinya. Maka itulah sebabnya, gagasan tentang penindasan pada mekanisme kekuasaan atas dirinya sangatlah berbahaya.
Konsekuensi utamanya adalah Vincent harus berjuang karena dianggap sebagai orang sakit jiwa. Hal ini merupakan kesempatan untuk menghancurkan superegonya, tetapi di usia muda dia mengakhiri hidupnya dengan menyatakan dirinya tertembak, tanpa mengakui sebagai bagian dari kekuasaan superegonya. Sampai kesakitan hingga meninggalpun superego masih menguasainya.
Karya-karyanya dikenal setelah Vincent van Gogh meninggal. Selama dia hidup, belum pernah menikmati semua hasil karyanya. Yang menarik adalah pada saat berada di rumah sakit jiwa, sebelum dan sesudahnya merupakan masa yang paling produktif dalam pengkaryaannya. Hal ini menunjukkan adanya usaha untuk menindas dirinya semakin kuat dengan proses kreatif yang luar biasa, sekaligus usaha memotong telinganya yang sangat tidak normal (meskipun definisi normal semakin kompleks). Garis-garis dan warna-warna terang yang semakin kuat menunjukkan harapannya untuk kehidupan yang diimpikan menjadi lebih baik, tidak segelap yang dia alami selama hidupnya.
Kemudian, pada perkembangannya Johanna Gezina Bonger (isteri Theo van Gogh) memperkenalkan karya-karya Vincent van Gogh pada dunia seni rupa yang sedang berkembang di Eropa. Jo, sebagaimana orang mengenalnya, menerjemahkan surat-surat van Gogh dalam bahasa Inggris. Menurut Hamid Nabhan, ada sekitar 526 surat yang kemudian pada tahun 1914 diterbitkan dalam buku 3 jilid dengan judul Brieven aan zijn broeder (Surat-surat pada Saudaranya). Kemudian dia memamerkan karya-karya Vincent van Gogh di Amsterdam tahun 1892, dan pameran yang lebih besar pada tahun 1905 di Amsterdam juga dengan sebanyak 480 karya. Dengan demikian, perlu dipelajari tentang pribadi jujur dari Vincent van Gogh yang terwakilkan dalam karya-karya lukisnya maupun dalam tulisan-tulisan suratnya yang penuh emosional. Vincent van Gogh memiliki kehidupan yang kelam, tetapi karya-karyanya masih hidup dan sudah berlangsung lebih dari satu abad.
Babakan Siliwangi, Bandung, 25 Februari 2026

Social Header