Breaking News

Habib Abdurrahman Teupin Wan: Pejuang yang Tak Pernah Takluk kepada Penjajah Belanda Oleh: Hamid Nabhan

   Habib Abdurrahman bin Hasan Assegaf, yang lebih dikenal dengan nama Habib Teupin Wan, adalah seorang ulama dan pejuang asal Aceh yang menjadi salah satu simbol keteguhan rakyat Aceh dalam menghadapi penjajahan Belanda. Ia lahir sekitar tahun 1850 di kawasan Teupin Wan, Aceh Besar, berasal dari keluarga keturunan Arab Hadhrami yang merupakan garis keturunan Sayidina Husein ra, cucu dari Baginda Rasulullah SAW [1]. Sebagai seorang ulama yang menguasai ilmu agama secara mendalam, ia memiliki pengaruh besar di kalangan masyarakat dan memainkan peran penting dalam menyatukan kekuatan spiritual dan militer dalam perlawanan.

  Perjuangannya dimulai sejak awal agresi militer Belanda terhadap Aceh pada Maret 1873 dan berlangsung selama lebih dari 38 tahun hingga akhir hayatnya – menjadikannya salah satu panglima perang dengan masa perjuangan terlama dalam sejarah perlawanan di Aceh [2]. Awalnya, ia mendirikan benteng pertahanan dekat makam keramat Tengku Di Leung Keung di wilayah Aceh Besar, dari mana ia dan pasukannya melakukan serangan gerilya serta membakar semangat juang rakyat. Ketika kondisi di Aceh Besar tidak lagi memungkinkan untuk berperang gerilya, ia hijrah ke wilayah Keumala, Pidie, kemudian melanjutkan perjuangannya di sekitar Gunung Halimon, Tangse [3].

   Habib Abdurrahman Teupin Wan dikenal sebagai sosok yang tidak kenal kompromi dengan pihak kolonial. Masyarakat Aceh menganggapnya sebagai "Tengku Chik di Tiro yang kedua", karena mampu membangkitkan semangat rakyat untuk terus berjuang setelah syahidnya Tengku Chik di Tiro pada tahun 1891 [3]. Bahkan ketika beberapa tokoh penting Kerajaan Aceh Darussalam menyuratinya untuk bertaslim atau menyerah kepada Belanda pada tahun 1909, ia tetap menolak dan memilih untuk berjihad fi sabilillah. Belanda menganggapnya sebagai ancaman utama, hingga Snouck Hugronje – ahli Aceh yang bekerja dengan pemerintah Hindia Belanda – menyarankan agar gerakannya dijegal dan bahkan menyebutnya sebagai salah satu keturunan Arab paling gigih dalam perlawanan [1]. Ia juga bekerja sama dengan berbagai tokoh pejuang Aceh lainnya seperti Teungku Id, Teungku Abas, dan ulama-ulama dari kelompok Tiro. Jendral Swart dalam bukunya Pacivicator Van Atjeh menggambarkan ketokohannya dengan tiga karakter yakni ulama, pemimpin perlawanan, dan sosok keramat [3].

   Habib Abdurrahman tidak hanya berjihad dengan harta dan jiwanya, melainkan juga bersama keluarganya. Putranya, Habib Muhammad Asseqaf, syahid lebih dulu pada tanggal 21 Mei 1910 bersama putra Tengku Chik di Tiro, yakni Tengku Beb, dalam pertempuran di Gunung Meureuseu, Tangse [1].

   Pada tanggal 29 September 1911 (5 Syawal 1329 H), Habib Teupin Wan syahid dalam pertempuran sengit dengan pasukan Kolonel H.J Schmidt di kawasan Gunung Halimon, Tangse. Lokasi persembunyiannya berhasil dilacak oleh pasukan Belanda berkat jejak seekor sapi yang diberikan oleh Teungku Baje Mirah sebagai hadiah Idul Fitri [4]. Ia kemudian dimakamkan di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Tangse, Pidie, dan hingga kini makamnya tetap ramai diziarahi oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan kepada sang pejuang. Meskipun berjasa besar, namanya relatif kurang dikenal dalam narasi sejarah nasional, sehingga sejumlah kalangan di Aceh telah mengusulkan agar ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia [2].

Catatan Kaki

[1] Putraceh. (2018). Habib Teupin Wan.Panglima Tangguh yang Memerangi Kaphe. Hive.blog. Diakses dari https://hive.blog/history/@putraceh/habib-teupin-wan-panglima-tangguh-yang-memerangi-kaphe

[2] Habib Teupin Wan. (2025). Dalam Ensiklopedia Bahasa Indonesia. Wikipedia Indonesia. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Habib_Teupin_Wan

[3] Dela, S. R. (2022). Refleksi Perjuangan Habib Abdurrahman Teupin Wan dalam Nilai-nilai Patriotisme. Aceh Tribunnews. Diakses dari https://aceh.tribunnews.com/2022/11/11/refleksi-perjuangan-habib-abdurrahman-teupin-wan-dalam-nilai-nilai-patriotisme

[4] Keteguhan Habib Teupin Wan yang Tak Pernah Takluk kepada Belanda. (2024). Acehonline.co. Diakses dari https://www.acehonline.co/news/keteguhan-habib-teupin-wan-yang-tak-pernah-takluk-kepada-belanda/index.html

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id