Breaking News

Energi dalam Garis: Van Gogh Menangkap Matahari Arles

   Setelah meninggalkan  Paris yang riuh dan sibuk, Vincent van Gogh tiba di Arles pada tahun 1888 dengan satu obsesi besar: menangkap cahaya matahari yang paling murni. Di kota kecil di selatan Prancis inilah, Vincent mengalami ledakan kreativitas yang luar biasa. Ia tidak hanya melukis dengan cat minyak yang tebal, tetapi juga melahirkan serangkaian karya gambar (drawing) menggunakan pena buluh (reed pen) yang sangat ekspresif. Sketsa "Field with Houses under a Sky with Sun Disk" menjadi bukti bagi Van Gogh, bagaimana matahari bukan sekadar benda langit, melainkan sumber energi spiritual yang menggerakkan seluruh alam semesta.

   Secara teknis, gambar ini menunjukkan jeniusnya Van Gogh dalam memanipulasi garis. Tanpa bantuan warna kuning yang menjadi ciri khasnya, ia mampu menciptakan kesan panas yang menyengat dan ladang yang bergetar hanya melalui tinta. Garis-garis pendek dan patah-patah pada area ladang gandum memberikan tekstur gerakan, seolah-olah kita bisa mendengar gesekan daun gandum yang ditiup angin Arles. Sementara itu, piringan matahari di langit digambarkan dengan garis-garis tegas yang memancar keluar—sebuah simbol "halo"* yang sering ia gunakan untuk memberikan kesan sakral pada alam.

   Penggunaan pena buluh yang dipotong sendiri oleh Vincent memberikan karakter garis yang jujur; terkadang tebal dan kasar, terkadang halus dan tajam. Teknik ini ia pelajari dari kecintaannya pada seni cetak kayu Jepang, yang mengutamakan kekuatan grafis untuk membangun volume. Di Arles, Vincent sering kali berkelana ke ladang-ladang luas, termasuk ladang bunga matahari yang legendaris, untuk memindahkan energi yang ia rasakan langsung ke atas kertas. Baginya, menggambar bukanlah sekadar persiapan untuk melukis, melainkan cara untuk berkomunikasi secara intim dengan alam.

   Melalui garis-garis yang penuh tenaga ini, kita bisa merasakan detak jantung seorang Van Gogh yang sedang berjuang melawan kesunyiannya. Di bawah terik matahari Arles yang tanpa ampun, ia berhasil membuktikan bahwa cahaya yang paling terang sekalipun dapat ditangkap dengan sempurna melalui kesederhanaan garis hitam di atas putih. Gambar ini adalah sebuah tarian energi, sebuah rekaman visual tentang bagaimana seorang manusia mencoba merengkuh matahari dan memindahkannya ke dalam genggaman tangannya.

*Halo: Merupakan lingkaran cahaya yang biasanya muncul dalam seni religius klasik untuk melambangkan kesucian atau martabat luhur. Dalam karya ini, Van Gogh mengadopsi bentuk tersebut untuk memuliakan matahari dan alam, mengubah sebuah pemandangan ladang biasa menjadi sesuatu yang bersifat sakral dan spiritual.

Daftar Pustaka

-Sjöberg, Lars-Erik. Van Gogh’s Botanical Utopia: The Arles Drawings. Amsterdam: Van Gogh Museum Publications, 2011.

-Heugten, Sjraar van. Van Gogh Master Draughtsman. London: Royal Academy of Arts, 2005.

-Naifeh, Steven & White Smith, Gregory. Van Gogh: The Life. New York: Random House, 2011.

 

 

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id