Breaking News

Dari Tidak Terkenal ke Mahal? Bagaimana Kolektivitas Menggerakkan Seniman dalam Hiruk Pikuk Pasar Seni" Oleh: Hamid Nabhan

   Pasar seni seringkali tampak seperti dunia yang misterius, di mana sebuah lukisan bisa bernilai hanya beberapa ribu rupiah pada satu waktu, kemudian melonjak hingga jutaan bahkan milyaran rupiah dalam beberapa tahun berikutnya. Banyak yang mengira nilai sebuah karya seni hanya ditentukan oleh keahlian teknis sang seniman atau keunikan gaya yang dihasilkannya, namun kenyataannya, dinamika yang terjadi jauh lebih kompleks. Di balik setiap kenaikan nilai karya yang dramatis, seringkali ada peran penting dari kolektivitas – kelompok orang atau komunitas tertentu yang secara sengaja atau tidak sengaja menggerakkan sentimen pasar, membawa nama seniman dari kegelapan yang tak dikenal menuju sorotan yang membuat karya mereka menjadi sangat berharga.

   Salah satu contoh paling ikonis dari fenomena ini adalah Jean-Michel Basquiat, pelukis Amerika keturunan Puerto Riko dan Haiti yang awalnya dikenal sebagai seniman jalanan dengan karya yang dijual dengan harga sangat murah. Pada awal 1980-an, Basquiat masih menjual lukisannya di jalanan Manhattan dengan harga hanya beberapa dolar AS, bahkan terkadang ditukarkan dengan makanan atau tempat tinggal. Karyanya yang penuh energi dengan tema ras, identitas, dan ketidakadilan sosial dianggap terlalu "kasar" dan tidak sesuai dengan selera pasar seni kontemporer saat itu. Namun, perubahan besar terjadi ketika Andy Warhol – salah satu seniman paling terkenal pada masanya – menyadari bakat luar biasa Basquiat. Warhol tidak hanya menjadi teman dan mentor baginya, tetapi juga secara aktif mengangkat namanya ke dalam lingkaran seni yang elit. Mereka bekerja sama dalam proyek kolaborasi, Warhol memperkenalkan Basquiat kepada kolektor besar dan kritikus seni ternama, serta membantu membangun narasi tentang Basquiat sebagai suara baru yang penting dalam seni Amerika. Dukungan dari Warhol beserta komunitas seni yang menyertainya secara perlahan mengubah sentimen pasar – apa yang dulunya dianggap sebagai karya jalanan yang tidak berharga kini mulai dilihat sebagai karya yang revolusioner. Setelah kematian Basquiat yang mendadak pada usia muda, nilai karyanya melonjak pesat. Pada tahun 2017, salah satu lukisannya berjudul Untitled terjual dengan harga lebih dari 110 juta dolar AS, menjadikannya salah satu karya seni Amerika yang paling mahal di dunia. Peran Andy Warhol dan lingkaran seni yang mendukungnya menjadi contoh nyata bagaimana kolektivitas yang datang dari tokoh berpengaruh bisa mengubah nasib seorang seniman secara total.

   Contoh nyata lainnya bisa kita lihat pada banyak seniman Yahudi yang aktif sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Selama masa rezim Nazi, seniman Yahudi dilarang untuk menampilkan karyanya di galeri resmi, karya mereka dianggap sebagai "seni degenerate" dan seringkali dibakar atau disita. Banyak di antaranya terpaksa hidup dalam pengungsian atau menyembunyikan karya mereka agar tidak dihancurkan. Pada masa itu, karya mereka hampir tidak memiliki nilai ekonomi sama sekali – bahkan jika ditemukan, sangat sedikit orang yang berani membeli atau mengakui keberadaannya. Namun, setelah perang berakhir, komunitas Yahudi di seluruh dunia bersama dengan sejumlah kolektor dan kritikus seni mulai melakukan upaya kolektif untuk mengangkat kembali nama-nama seniman tersebut. Mereka mengumpulkan karya yang tersisa, menyelenggarakan pameran khusus yang menceritakan latar belakang sejarah dan perjuangan sang seniman, serta bekerja sama untuk memastikan karya tersebut masuk ke dalam buku sejarah seni. Seiring waktu, sentimen pasar mulai berubah – apa yang dulunya dianggap sebagai karya tidak berharga kini dilihat sebagai bagian penting dari warisan budaya yang hampir hilang. Seniman seperti Marc Chagall dan Amedeo Modigliani, yang pada masa hidupnya seringkali kesulitan mendapatkan pengakuan, kini menjadi nama besar dengan karya yang diperjualbelikan dengan harga fantastis di lelang seni dunia.

   Tak hanya di dunia internasional, fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, banyak seniman muda dari daerah-daerah seperti Yogyakarta dan Bandung yang memiliki gaya seni yang berbeda dari arus utama yang populer saat itu. Mereka lebih fokus pada eksplorasi identitas budaya lokal dan penggunaan bahan-bahan tradisional, yang saat itu dianggap kurang "modern" dan tidak sesuai dengan selera pasar yang lebih mengedepankan gaya seni Barat. Karya mereka seringkali hanya bisa ditemukan di galeri kecil atau bahkan hanya ditampilkan di ruang tunggu rumah teman. Namun, seiring berkembangnya kesadaran akan pentingnya seni lokal dan dukungan dari komunitas seniman Indonesia yang semakin solid, mulai muncul upaya kolektif untuk mempromosikan karya mereka. Kelompok seniman membentuk komunitas dan yayasan seni, bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pameran seni raya, serta menjalin hubungan dengan kolektor muda yang mulai menyadari nilai karya tersebut. Akhirnya, sentimen pasar berubah – karya yang dulunya sulit terjual kini menjadi incaran kolektor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan, beberapa di antaranya kini dianggap sebagai tokoh penting dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia, dengan karya yang laku dengan harga yang jauh lebih tinggi dari ketika mereka masih tidak dikenal.

   Kita juga bisa melihat contoh lain pada kasus seniman yang memiliki latar belakang atau gaya yang dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat. Misalnya, seniman yang fokus pada tema-tema sosial yang sensitif atau menggunakan teknik seni yang dianggap tidak konvensional. Pada awalnya, karya mereka seringkali ditolak oleh galeri besar dan dianggap tidak layak untuk dikoleksi. Namun, ketika ada kelompok aktivis atau komunitas yang memiliki visi sama dengan sang seniman mulai memberikan dukungan – baik dalam bentuk pembelian karya, promosi melalui media sosial dan acara budaya, maupun pembuatan narasi yang menjelaskan makna di balik karya tersebut – sentimen pasar bisa berubah drastis. Apa yang dulunya dianggap sebagai karya yang "tidak laku" bisa menjadi simbol perubahan sosial dan mendapatkan tempat yang penting dalam pasar seni.

   Namun, di sisi lain, dinamika kolektivitas ini juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Tidak semua upaya untuk mengangkat nama seniman dilakukan dengan tujuan yang murni untuk memajukan seni. Ada kalanya kolektivitas bertindak hanya untuk keuntungan finansial semata – mereka membeli karya seniman yang masih tidak dikenal dengan harga murah, kemudian melakukan kampanye promosi yang dirancang untuk membuat karya tersebut tampak lebih berharga dari sebenarnya. Dalam beberapa kasus, hal ini bisa menyebabkan pembentukan gelembung pasar yang akhirnya pecah, membuat harga karya kembali jatuh dan merugikan kolektor yang membeli di puncak kenaikan harga. Selain itu, ketika kolektivitas terlalu dominan dalam membentuk sentimen pasar, ada risiko bahwa karya seni yang sebenarnya memiliki kualitas tinggi namun tidak sesuai dengan arahan kolektivitas tersebut akan terus terpinggirkan dan tidak mendapatkan pengakuan yang layak.

 

   Pada akhirnya, pasar seni adalah dunia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor – mulai dari kualitas karya itu sendiri, sejarah dan makna yang dibawanya, hingga sentimen yang dibentuk oleh interaksi antara seniman, kolektor, kritikus, dan komunitas yang mendukungnya. Peran kolektivitas dalam menggerakkan seniman dari tidak terkenal menuju kesuksesan ekonomi memang tidak bisa diabaikan. Namun, yang paling penting adalah memastikan bahwa upaya tersebut dilakukan dengan rasa hormat terhadap nilai seni dan tujuan yang benar – yaitu untuk memberikan pengakuan yang layak kepada seniman yang berharga dan memperkaya khazanah budaya kita bersama.


Surabaya, 21 Februari 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id