Breaking News

Antara Cinta dan Revolusi: Perjalanan Karya Ivan Turgenev Oleh: Hamid Nabhan

   Ivan  Sergeyevich Turgenev lahir pada 28 Oktober 1818 (sesuai kalender Julian yang digunakan di Rusia kala itu, setara dengan 9 November 1818 menurut kalender Gregorian) di kota Orel, Rusia. Ia berasal dari keluarga bangsawan kaya yang memiliki lahan luas di provinsi yang sama. Ayahnya, Sergei Nikolaevich Turgenev – seorang kolonel kavaleri – meninggal ketika Ivan baru berusia 16 tahun, sehingga dia dan saudara laki-lakinya dibesarkan oleh ibu mereka, Varvara Petrovna Lutovinova. Wanita tersebut dikenal sering menyiksa anak-anaknya, namun memiliki hati yang lembut terhadap hewan. Sejak kecil, Turgenev menunjukkan minat mendalam pada sastra dan alam bebas. Tak disangka, jalan kehidupannya akan erat terhubung dengan tanah airnya melalui tulisan-tulisan yang tidak hanya mengubah peta sastra Rusia, tapi juga membentuk pandangan masyarakat tentang masa depan negaranya.

 

   Turgenev merupakan salah satu tokoh utama gerakan realisme dalam sastra Rusia abad ke-19. Ia berhasil menggabungkan gaya penceritaan liris dan penuh keindahan dengan gambaran realistis tentang kehidupan masyarakat Rusia pada masa itu. Ia dipercaya sebagai orang yang memperkenalkan dua konsep penting dalam sastra Rusia:

 

-"Orang yang berlebihan" – tokoh intelektual dengan cita-cita besar namun kurang kemauan untuk melaksanakannya (pertama muncul dalam Buku Harian Seorang yang Berlebihan tahun 1850);

-"Nihilisme" melalui tokoh Bazarov dalam novel Ayah dan Anak-anaknya tahun 1862.

 

   Selain kedua karya tersebut, novelnya seperti Di Malam Hari (1860) dan Sarang para Bangsawan (1859) juga menjadi cermin perubahan sosial yang terjadi di Rusia, dengan menggambarkan konflik antar generasi dan munculnya kaum intelektual yang ingin mengubah sistem lama. Gaya tulisnya yang halus dan penuh perhatian pada detail psikologis karakter telah memberikan pengaruh besar bagi penulis sesudahnya, termasuk Anton Chekhov, Henry James, dan Sherwood Anderson. Turgenev juga dianggap sebagai perwakilan pertama sastra Rusia yang dikenal secara luas di Eropa Barat, menjembatani kesenian Rusia dengan dunia internasional.

 

Karya Turgenev yang pertama kali membuat namanya dikenal luas adalah Zapiski okhotnika (Catatan Seorang Pemburu), yang diterbitkan secara lengkap tahun 1852. Berdasarkan pengamatan pribadinya saat berburu di tanah ibunya di Spasskoye, kumpulan cerita ini menggambarkan kehidupan rakyat jelata Rusia dengan penuh kasih sayang dan menghadirkan mereka bukan sebagai budak, melainkan sebagai manusia dengan martabat sendiri. Ia juga mengkritik sistem perbudakan (serfdom) melalui gambaran tentang bagaimana pemilik tanah memperlakukan petani dengan kejam. Dampak sosial karya ini luar biasa besar – bahkan dikatakan setara dengan pengaruh Uncle Tom's Cabin karya Harriet Beecher Stowe di Amerika Serikat. Kisah-kisahnya dipercaya telah memperkuat tekad Tsar Alexander II untuk mengakhiri sistem perbudakan, yang akhirnya direalisasikan dengan Undang-Undang Pembebasan tahun 1861.

 

   Pada tahun 1843, ketika masih muda, Turgenev bertemu dengan penyanyi mezzo-soprano Prancis terkenal, Pauline Viardot, yang sedang melakukan tur konser di St. Petersburg. Cinta yang tumbuh dalam dirinya pada wanita yang sudah menikah itu menjadi salah satu kekuatan pendorong utama dalam hidupnya. Meskipun cintanya tak berbalas secara penuh, hubungan mereka tetap bertahan sepanjang hayat – Turgenev bahkan mengikuti Pauline dan keluarganya keliling Eropa, dari Prancis hingga Jerman. Ia juga mengurus pendidikan anak perempuan luar nikahnya dari seorang petani penggarap, yang kemudian diasuh oleh keluarga Viardot. Tema cinta yang dalam namun seringkali penuh penderitaan dan kehilangan banyak muncul dalam karyanya, seperti dalam cerita Cinta Pertama (1860) dan novel Arus Musim Semi (1872).

 

   Turgenev menjalin hubungan erat dengan banyak tokoh penting dalam dunia sastra dan seni. Di Rusia, ia berteman dengan Leo Tolstoy dan Ivan Goncharov, meskipun terkadang terjadi perselisihan – salah satunya dengan Tolstoy yang hampir berujung pada duel dan berlangsung selama 17 tahun sebelum mereka kembali berteman. Ia juga pernah memiliki perselisihan dengan Fyodor Dostoevsky, namun keduanya akhirnya bisa menghormati karya masing-masing. Di Eropa Barat, Turgenev dekat dengan penulis seperti Gustave Flaubert, Émile Zola, dan George Sand. Ia juga memiliki hubungan erat dengan komposer Pyotr Tchaikovsky, yang merupakan pengagum besar karya Turgenev. Turgenev sangat menghargai musiknya, terutama lagu None But the Lonely Heart, yang ia masukkan ke dalam cerita terakhirnya Klara Milich (1883). Ia sering mendukung dan mempromosikan karya Tchaikovsky di kalangan masyarakat Eropa, menjadi salah satu orang pertama yang melihat potensi besar dalam musik sang komposer.

 

   Pada tahun-tahun akhir hidupnya, Turgenev lebih banyak tinggal di Prancis, khususnya di Bougival dekat Paris, bersama keluarga Viardot. Meskipun sering sakit, ia tetap aktif menulis dan berpartisipasi dalam kegiatan sastra. Novel terakhirnya, Tanah Perawan (1877), membahas tentang kaum intelektual yang mencoba menyebarkan ide revolusioner di kalangan rakyat jelata. Meskipun tidak terlalu diterima oleh kritikus Rusia, novel ini mendapat sambutan hangat di luar negeri. Turgenev wafat pada 3 September 1883 (atau 22 Agustus menurut kalender Julian) di usia 64 tahun. Jenazahnya dibawa kembali ke Rusia dan dimakamkan di Taman Makam Volkov di St. Petersburg, di samping makam mentornya – kritikus besar Vissarion Belinsky. Ribuan orang berbaris di jalanan untuk memberikan penghormatan terakhir pada salah satu penulis Rusia yang paling dicintai.

 

   Warisannya tetap hidup hingga kini. Karya-karyanya terus diterbitkan dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, termasuk oleh penerbit Penguin Classics dan New York Review Books. Novelnya seperti Ayah dan Anak-anaknya, Sarang para Bangsawan, dan Catatan Seorang Pemburu masih menjadi bacaan penting bagi mereka yang ingin memahami sejarah dan budaya Rusia, sekaligus menikmati keindahan gaya tulis yang menjadi ciri khas Ivan Turgenev. Selain itu, pengaruhnya pada sastra dunia tetap terasa, dengan gaya realisme lirisnya yang menjadi inspirasi bagi banyak penulis modern.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id