Vera Tamari lahir di Yerusalem pada tahun 1945, saat wilayah itu masih dikenal sebagai Palestina Mandat. Ia berasal dari keluarga Kristen Palestina yang aslinya berasal dari Jaffa, sebuah kota yang kaya akan budaya dan sejarah. Di rumahnya, ia tumbuh bersama dengan kakak laki-laki Vladimir yang kemudian menjadi seniman di Jepang dan saudari Tania yang berkarier sebagai penyanyi klasik. Lingkungan keluarga yang cinta akan seni, musik, dan sastra sejak dini membuat Vera terpapar dunia kreatif dan mulai mengamati keindahan arsitektur tradisional Palestina serta aktivitas sehari-hari masyarakat sekitarnya.
Minat Vera pada seni mulai muncul sejak kecil, ketika dia sering menghabiskan waktu untuk menggambar rumah-rumah tradisional Palestina dengan ornamen khasnya atau mencatat momen-momen hangat saat keluarga berkumpul bersama. Pada masa remaja, dia menyadari bahwa seni bisa jadi cara untuk menyampaikan cerita tentang tanah airnya – bukan hanya tentang keindahannya, tapi juga tentang identitas yang patut dijaga. Awalnya dia mencoba melukis dengan cat di atas kanvas, namun perjalanan kreatifnya benar-benar berbalik ketika dia menemukan tanah liat dan merasakan hubungan mendalam dengan bahan alami tersebut.
Untuk mengasah bakatnya, Vera melanjutkan studi ke luar negeri. Pada tahun 1966, ia menyelesaikan Sarjana Seni Rupa dari Beirut College for Women yang sekarang dikenal sebagai Lebanese American University di Lebanon. Tidak puas hanya dengan itu, dia kemudian pergi ke Italia untuk mendalami keramik di Instituto Statale per la Ceramica di Florence, menyelesaikan studinya pada tahun 1972. Tak berhenti sampai situ, dia melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford dan memperoleh gelar M.Phil. dalam Seni dan Arsitektur Islam pada tahun 1984 – pengetahuan ini kemudian banyak menginspirasi gaya kerjanya yang memadukan unsur tradisional dengan kontemporer.
Setelah kembali ke tanah air, Vera membuat sejarah pada tahun 1975 ketika mendirikan studio keramik pertama di Tepi Barat di kota Al-Bira, dekat Ramallah. Saat itu, ia menghadapi banyak tantangan mulai dari kurangnya akses ke bahan dan peralatan hingga stigma sosial sebagai perempuan seniman di masa itu. Namun dia tidak menyerah; malah semakin kreatif dengan menggunakan bahan lokal seperti tanah liat dari daerah sekitar Ramallah dan Jaffa yang menurutnya memiliki jiwa dan membawa jejak sejarah tanah air. Ia juga aktif dalam membangun komunitas seni Palestina, menjadi anggota pendiri Pusat Seni Al-Wasiti di Yerusalem dan Kelompok Seni Visi Baru yang didirikan pada tahun 1989 selama Intifada Pertama. Kelompok ini menggunakan bahan mudah ditemukan seperti kayu, kain tradisional, dan tanah untuk menyampaikan semangat perjuangan rakyat Palestina sambil tetap menghargai nilai budaya lokal.
Karya Vera mulai dikenal luas setelah mengikuti berbagai pameran nasional dan internasional. Beberapa pameran penting yang ia ikuti antara lain New Visions: Art from the Occupied Territories yang menjelajah Yordania, Italia, dan Jerman pada tahun 1989 hingga 1990, Forces of Change: Artists of the Arab World di Washington DC pada tahun 1994, serta Made in Palestine yang melakukan tur di Amerika Serikat pada tahun 2006. Bahkan pada tahun 2025, karyanya juga tampil dalam pameran "Art of the Palestinian Poster" di p21.gallery di London. Selain sebagai seniman, ia juga berkontribusi besar di dunia pendidikan dan kuratorial. Sebagai profesor di Universitas Birzeit selama lebih dari dua dekade, dia mendirikan dan mengelola Museum Etnografi dan Seni serta Galeri Virtual Paltel. Ia juga menulis beberapa buku penting seperti The Palestinian Village Home yang diterbitkan pada tahun 1989 bersama Suad Amiry, Returning: Palestinian Family Memories and Clay Reliefs pada tahun 2022, dan buku tentang karyanya yang berjudul Intimate Reflections: The Art of Vera Tamari.
Sampai saat ini Vera Tamari masih hidup dan terus berkarya, aktif mempromosikan seni dan budaya Palestina serta menjadi anggota juri untuk berbagai penghargaan seni termasuk dari Yayasan Abd al-Muhsin al-Qattan dan Yayasan Seni dan Budaya Arab. Ia sering mengungkapkan bahwa seni bagi dirinya adalah cara untuk menghidupkan kembali cerita dan memori Palestina yang terabaikan, serta membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini. Melalui karya-karyanya yang menggunakan tanah liat, cat, kain, dan berbagai media lain, ia ingin menunjukkan bahwa rakyat Palestina bukan hanya korban konflik tetapi juga memiliki budaya kaya, cerita yang mendalam, dan harapan yang kuat untuk masa depan yang lebih baik. Karya-karyanya seperti Alun-alun Zaitun, Twilight Over Ramallah Hills, Four Seasons, dan Olive Tree Women terus menjadi bukti perjuangannya dalam menjaga dan menyampaikan jiwa Palestina kepada dunia.



Social Header