Breaking News

Sliman Mansour: Seni sebagai Wujud Keteguhan Rakyat Palestina Oleh: Hamid Nabhan


   Sliman Mansour (juga dieja Suleiman atau Suliman) lahir pada tahun 1947 di Birzeit, sebuah kota kecil dekat Yerusalem di Palestina Mandatori. Lahir satu tahun sebelum terjadinya Nakba tahun 1948—peristiwa dimana lebih dari 700.000 orang Palestina terpaksa mengungsi dari tanah air mereka—kehidupannya selalu terkait erat dengan perjuangan rakyat Palestina. Setelah kejadian Nakba dan kemudian Perang Enam Hari tahun 1967 yang menyebabkan seluruh wilayah Palestina dikuasai Israel, Mansour memutuskan untuk mengeksplorasi seni sebagai sarana menyampaikan identitas dan perjuangan bangsanya.

   Ia belajar di Akademi Seni dan Desain Bezalel di Yerusalem, di mana ia diajarkan tren ekspresionisme abstrak yang saat itu populer. Namun, ia memilih jalan yang berbeda dengan mengembangkan gaya realis yang fokus menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat Palestina yang hidup dan berakar di tanah kelahirannya. Pada tahun 1970-an, ia mulai dikenal luas melalui karya ikoniknya Camel of Hardship (1973) yang menggambarkan seorang pekerja tua membungkuk di bawah beban tas yang berbentuk seperti mata dan berisi kota Yerusalem dengan ciri khas Kubah Batu. Karya ini tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga mencerminkan konsep keteguhan yang menjadi inti dari identitas Palestina.

   Selanjutnya, Mansour mendirikan gerakan seni "New Visions" pada tahun 1987 bersama Vera Tamari, Tayseer Barakat, dan Nabil Anani sebagai tanggapan terhadap Intifada Pertama. Sebelumnya, pada tahun 1986-1990, ia menjabat sebagai kepala Liga Seniman Palestina dan berperan penting dalam mengembangkan infrastruktur seni di wilayah yang diduduki. Pada tahun 1998 ia menerima Hadiah Palestina untuk Seni Rupa dan Penghargaan Nil di Biennale Kairo untuk seri karyanya I am Ismail, dengan karya-karyanya yang dipamerkan di seluruh dunia dan masuk dalam koleksi publik internasional seperti Guggenheim Museum Abu Dhabi, Mathaf Arab Museum of Modern Art Doha, dan The Palestinian Museum Birzeit. Hingga saat ini, ia tetap aktif berkarya sebagai salah satu seniman Palestina kontemporer paling berpengaruh.

 


   Setelah mendapatkan pengakuan awal melalui karya-karya realisnya, peran Sliman Mansour semakin besar ketika ia mulai mengintegrasikan unsur-unsur politik dan budaya Palestina ke dalam nilai estetika lukisannya. Menurut sumber dari Zawyeh.net, karya-karyanya selalu berpusat pada tema perjuangan Palestina, dengan fokus awal pada petani dan wanita berpakaian tradisional sebagai simbol tanah air dan identitas nasional.

   Pada masa Intifada Pertama (1987-1993), bersama gerakan "New Visions", ia memboikot perlengkapan seni yang diimpor dari Israel dan mulai menggunakan bahan alami lokal seperti lumpur, henna, kopi, dan kayu dari lingkungan Palestina. Penggunaan lumpur sendiri terinspirasi dari kenangan masa kecilnya membantu neneknya membangun sarang lebah dan oven dari tanah liat. Sebagaimana diungkapkannya dalam wawancara di Southeast Review, awalnya ia menganggap retakan yang muncul saat lumpur mengering sebagai cacat, namun kemudian melihatnya sebagai representasi fragmentasi geografis Palestina akibat pendudukan dan pembatasan gerak. Estetika ini tidak hanya menjadi bentuk perlawanan politik, tetapi juga memperkuat hubungan antara proses pembuatan seni dengan tanah dan sejarah rakyat Palestina.

   Simbol-simbol yang digunakan dalam karyanya juga memiliki nilai estetika dan makna yang mendalam. Menurut situs Colony Art, pohon jeruk menjadi simbol Nakba tahun 1948, sedangkan pohon zaitun melambangkan perang tahun 1967 dan hubungan abadi rakyat Palestina dengan tanah mereka. Wanita berpakaian tradisional dengan bordir Palestina sering muncul sebagai figur ibu yang melahirkan dan melindungi bangsa, seperti dalam karyanya The Daughter of Jerusalem (1978) dan The Flight to Egypt (1984).

   Bahkan, ketika pemerintah Israel melarang penggunaan warna merah, hijau, hitam, dan putih (warna bendera Palestina) dalam seni, Mansour bersama Liga Seniman Palestina menggunakan simbol semangka sebagai bentuk perlawanan yang kini dikenal secara internasional. Beberapa karya penting lainnya seperti Rituals Under Occupation (1989) menggambarkan prosesi pemakaman martir dengan peti mati yang menyerupai salib sebagai metafora pengorbanan, sedangkan Settlement (2008) menggunakan gambar kawat berduri yang membentuk sosok tentara untuk melambangkan pemukim yang digunakan untuk mengambil alih tanah Palestina. Dalam karyanya From the River to the Sea (2016), ia bahkan menggambarkan lanskap Palestina sebelum dihancurkan oleh pemukim, sebagai bentuk aksi pemberontakan yang mengingatkan akan sejarah yang terhapus.

   Selain lukisan, Mansour juga berkontribusi dalam pengembangan seni kontemporer Palestina melalui berbagai institusi yang dirikan. Pada tahun 1994, ia bersama mendirikan Pusat Seni al-Wasiti di Yerusalem Timur dan menjabat sebagai Direktur pada tahun 1995-1996. Ia juga merupakan anggota Dewan Direksi Pendiri Akademi Seni Internasional Palestina yang didirikan tahun 2004 di Ramallah, serta mengajar di berbagai universitas termasuk Universitas Al-Quds.

   Sebagai kartunis profesional, ia menerbitkan karyanya pada tahun 1981-1993 di Al-Fajr English Weekly dan menjadi salah satu penulis buku Both Sides of Peace: Israeli and Palestinian Political Poster Art (1998). Karyanya telah dipamerkan di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea, seluruh dunia Arab, dan Eropa, termasuk dalam pameran Musim Semi Prancis-Palestina tahun 1997 di Institut du Monde Arabe Paris.

   Perjalanan panjang Sliman Mansour sebagai seniman bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan juga tentang bagaimana seni bisa menjadi sarana untuk menjaga keberadaan dan martabat sebuah bangsa. Melalui cat, lumpur, dan berbagai bahan lokal yang ia gunakan, Mansour berhasil menangkap esensi keteguhan rakyat Palestina yang tidak pernah menyerah meskipun menghadapi berbagai tantangan—mulai dari pemboman, pembatasan gerak, hingga penghapusan identitas budaya. Karya-karyanya tidak hanya hidup di dalam museum dan galeri, tetapi juga menjadi bagian dari memori kolektif rakyat Palestina di seluruh dunia, bahkan dicetak sebagai poster yang dipajang di rumah dan tempat umum di Tepi Barat dan Gaza. Sebagaimana yang diungkapkannya dalam wawancara di Hyperallergic, "Karya kami tidak hanya sebagai pelukis tetapi juga sebagai intelektual—dalam budaya, dalam segala hal—adalah untuk menyatakan bahwa kami ada di sini." Sliman Mansour membuktikan bahwa seni bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga bisa menjadi kekuatan yang kuat untuk menyampaikan pesan harapan, perlawanan, dan cinta terhadap tanah air—sebuah warisan yang akan terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang untuk terus memperjuangkan hak-hak mereka dan menjaga akar budaya yang telah ada selama berabad-abad.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id