Naji al-Ali lahir sekitar tahun 1938 di desa al-Shajara, distrik Tiberias, Palestina. Ayahnya adalah Salim Hussein, dan keluarganya merupakan bagian dari masyarakat Palestina yang tinggal di wilayah tersebut sejak lama. Pada tahun 1948, ketika negara Israel berdiri dan peristiwa Nakba (bencana) terjadi, desa al-Shajara menjadi salah satu dari sekitar 530 desa yang dihancurkan oleh rezim Zionis. Saat itu berusia sekitar 10 tahun, Naji bersama lebih dari 750.000 warga Palestina terpaksa mengungsi dan meninggalkan tanah airnya. Keluarganya pertama kali berlindung di kamp pengungsian Ain al-Hilwa di selatan Lebanon, tempat mereka mengalami kesulitan hidup dan melihat langsung penderitaan rakyat Palestina akibat pendudukan. Desa asalnya kini telah digantikan oleh pemukiman Israel bernama Ilaniya, tanpa jejak yang tersisa.
Setelah beberapa tahun tinggal di kamp pengungsian, Naji pindah ke Tripoli, Libanon untuk mengikuti kursus mekanik selama dua tahun, kemudian menetap di Beirut dan tinggal di kamp pengungsian Shatila. Pada tahun 1957, ia bekerja sebagai mekanik di Arab Saudi selama dua tahun sebelum kembali ke Beirut pada tahun 1959 dan mendaftar di Akademi Seni Rupa lokal. Namun, ia harus keluar setelah ditahan oleh Biro Deuxième (dinas intelijen Lebanon) karena aktivitas politiknya yang mendukung perjuangan Palestina. Saat di penjara, ia mulai menggambar di dinding sebagai bentuk ekspresi politik, dan karya pertamanya kemudian diterbitkan oleh penulis serta jurnalis Palestina Ghassan Kanfani di majalah al-Hurriyya pada tahun 1962.
Pada tahun 1963, Naji pindah ke Kuwait dan bekerja sama dengan mingguan At-Tali’a serta surat kabar As-Siyasat. Di sinilah pada tahun 1969 ia menciptakan karakter ikonik Handala—sebuah anak laki-laki berusia 10 tahun yang merupakan usianya ketika mengalami Nakba. Handala digambarkan bertelanjang kaki, mengenakan pakaian sobek, dan selalu menghadap ke belakang sambil melihat ke arah tanah air Palestina, sosok Handala ini selalu hadir dalam karya kartun yang ia ciptakan, seakan menjadi saksi pada sebuah peristiwa yang terjadi. Menurut Naji, Handala tidak akan tumbuh hingga semua orang Palestina yang terdampar dapat kembali ke rumah mereka. Karakter ini dinamai dari buah pahit Palestina yang memiliki akar dalam dan tumbuh kembali setelah ditebang, menjadi simbol kesusahan, keteguhan, dan perlawanan rakyat Palestina.
Selain Handala, Naji juga menciptakan karakter lain seperti Fatima (wanita Palestina yang teguh dan cerdik) serta Pria Jahat (perwujudan kekuasaan yang menindas dan korup). Sepanjang karirnya, ia membuat lebih dari 40.000 kartun yang tidak hanya mengkritik pendudukan Israel, tetapi juga korupsi rezim Arab dan kegagalan kepemimpinan Palestina. Karyanya mendapatkan pengakuan luas—Time menyebutnya "orang yang menggambar dengan tulang manusia", sedangkan The Guardian menyatakan ia sebagai "wujud pendapat publik Arab". Pada tahun 1979, ia dipilih sebagai Sekretaris Jenderal Liga Kartunis Arab dan memenangkan hadiah pertama di Pameran Kartun Arab di Damaskus.
Setelah invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982, Naji aktif mengutuk pembantaian Sabra dan Shatila serta kembali ke Kuwait untuk bekerja di surat kabar Al-Qabas. Namun, ia dikeluarkan dari negara tersebut pada tahun 1985 dan mencari suaka di London, di mana ia terus menggambar untuk kantor cabang Al-Qabas. Pada tanggal 22 Juli 1987, ia tertembak di leher oleh seorang tersangka di luar kantor surat kabar tersebut. Ia tidak pernah sadarkan diri dan wafat lima pekan kemudian, pada tanggal 29 Agustus 1987, di Rumah Sakit Charing Cross Hospital, London. Senjata pembunuh ditemukan pada tahun 1989, dan pada tahun 2017 polisi Inggris mengumumkan pembaruan penyelidikan kasusnya yang hingga kini belum terpecahkan.
Meskipun telah tiada, karya Naji al-Ali tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas Palestina. Ia mendapatkan penghargaan secara anumerta seperti Penghargaan Golden Pen dari Federasi Penerbit Koran Internasional pada tahun 1988, yang menyebutnya sebagai "salah satu kartunis terbaik sejak abad ke-18". Karyanya dipajang di dinding kamp pengungsian, tembok pemisahan Israel, dan berbagai barang dagangan di seluruh dunia. Beberapa buku tentang karyanya telah diterbitkan dalam bahasa Arab, Inggris dan Italia, dan dokumenter berjudul Naji Al-Ali: An Artist with Vision (1999) juga dibuat untuk mengabadikan perjalanan hidup dan karyanya yang luar biasa.



Social Header