Breaking News

Makam Vincent van Gogh di Auvers-sur-Oise Oleh: Hamid Nabhan


   Di sebuah desa kecil berjarak 30 kilometer utara Paris, jalan-jalan sempit yang berkelok dan rumah-rumah tua berdiri kokoh seperti abad lalu. Ini adalah Auvers-sur-Oise – tempat di mana Vincent van Gogh menghabiskan 70 hari terakhir hidupnya, menciptakan hampir 80 karya hebat, dan akhirnya menemukan tempat peristirahatannya selamanya. Bagi para penggemar seni, desa ini bukan hanya sebuah destinasi wisata, melainkan tempat suci yang menyimpan cerita-cerita mendalam tentang salah satu pelukis paling legendaris di dunia.

   Vincent van Gogh wafat pada tanggal 29 Juli 1890 di usia 37 tahun, dua hari setelah menembak diri di ladang gandum di sekitar desa. Saat itu ia dimakamkan di pemakaman kota Auvers-sur-Oise, tepat di tengah lanskap yang begitu ia cintai dan sering ia lukis. Masa sewa untuk makam pertamanya hanya 15 tahun, sehingga pada tahun 1905 jenazahnya harus dipindahkan ke lokasi sekarang di dalam pemakaman yang sama. Proses pengangkatan yang diatur oleh Dokter Paul Gachet – yang pernah merawat Vincent sebelum wafat – dan dihadiri oleh Jo Bonger, isteri saudaranya Theo, sangat menyakitkan hati. Mereka melihat akar pohon thuja, yang berasal dari kebun Gachet sendiri dan muncul dalam lukisan In the Garden of Dr Paul Gachet, telah menyebar hingga menembus ruang antar tulang rusuk Vincent, tepat di tempat peluru memasuki dadanya. Bahkan tengkoraknya terpampang, membuat Gachet – yang saat itu percaya pada trenologi – sempat melihatnya dengan seksama, sebuah adegan yang kemudian disebut mirip dengan adegan dalam drama Shakespeare Hamlet.

   Theo van Gogh sendiri wafat enam bulan setelah Vincent dan awalnya dimakamkan di Utrecht. Ia adalah saudara yang selalu memberikan dukungan emosional dan finansial selama hidup Vincent, dan hubungan mereka sangat erat yang tercermin dalam ratusan surat yang mereka tukarkan. Keinginan Jo Bonger untuk menyatukan kedua saudara bahkan setelah kematian membuatnya memutuskan untuk memindahkan jenazah Theo. Baru pada tahun 1914, tepat sebelum Perang Dunia I meletus, proses pemindahan dilakukan dan Theo akhirnya bisa beristirahat berdampingan dengan saudaranya. Kini kedua nisan batu sederhana mereka ditutupi oleh selimut tanaman rambat Hedera helix – salah satu tanaman favorit Vincent – dan tampak seperti satu blok yang utuh, melambangkan kedekatan yang tak terpisahkan antara mereka. Setiap tahun, lebih dari 200.000 pengunjung dari seluruh dunia datang ke pemakaman ini untuk memberikan penghormatan, seperti yang dilaporkan oleh Institut Van Gogh. Bahkan desa Auvers-sur-Oise secara keseluruhan kini menarik lebih dari 300.000 wisatawan setiap tahunnya berkat daya tarik sejarah dan seni yang terkait dengan Van Gogh.

   Tempat di mana hidup Vincent berakhir tak jauh dari pemakaman, di Auberge Ravoux – penginapan kecil di mana ia menyewa kamar loteng dengan biaya tiga setengah franc per malam. Di lantai bawah, ia menggunakan ruangan yang disebut "Kamar Pelukis" untuk menciptakan karyanya dan menyimpan kanvas-kanvasnya. Pada tanggal 27 Juli 1890, Vincent tidak kembali untuk makan malam seperti biasanya – hal yang membuat keluarga Ravoux langsung merasa khawatir. Sekitar pukul sembilan malam, ia memasuki penginapan dengan kondisi terluka parah. Ketika ditanya apa yang terjadi, ia hanya menjawab: "Saya mencoba bunuh diri." Peluru yang ia tancapkan dari senapan revolver 7mm tidak mengenai organ vital, tetapi menembus terlalu dalam sehingga tidak bisa dikeluarkan. Theo segera datang dari Paris dan menemani saudaranya hingga akhir hayatnya, dan Vincent wafat karena infeksi dengan kata-kata terakhirnya: "Saya sangat ingin pergi." Hari ini, Auberge Ravoux tetap terjaga dengan baik dan menjadi museum kecil yang menyimpan barang-barang pribadi Vincent serta replika karyanya, sehingga pengunjung bisa merasakan suasana tempat di mana sang pelukis menghabiskan malam-malam terakhirnya.

Selama tinggal di Auvers-sur-Oise, alam dan pemandangan desa menjadi sumber inspirasi besar bagi Vincent. Salah satu karyanya yang paling terkenal, Wheatfield with Crows, terinspirasi dari ladang gandum luas di sekitar desa. Ketika mengunjunginya, hembusan angin yang menggoyangkan bulir gandum membuat pengunjung mudah membayangkan bagaimana Vincent duduk di sana, menatap pemandangan sambil menggambar setiap detailnya. Meskipun tidak selalu ada gagak yang terlihat, penduduk lokal mengatakan bahwa burung-burung itu sering muncul saat cuaca cerah. Tak jauh dari pusat desa berdiri Gereja Notre-Dame d'Auvers, sebuah bangunan Romawi-Gotik abad ke-12 yang pernah dilukis Vincent dalam karyanya The Church at Auvers. Gereja ini terletak di atas bukit tertinggi desa, dengan pemandangan seluruh Auvers yang terbentang di bawahnya. Meskipun kecil jika dibandingkan dengan gereja-gereja besar lainnya di Prancis, arsitekturnya yang memukau dan suasana damai di dalamnya membuat pengunjung bisa membayangkan Vincent sedang duduk di sana, merenung sebelum menciptakan karya agungnya.

   Pemerintah Prancis melarang pembangunan gedung baru di Auvers-sur-Oise untuk menjaga suasana desa seperti saat Van Gogh tinggal di sana – ketika teman-temannya seperti Pissarro, Gauguin, Monet, dan Cezanne juga sering mengunjungi tempat ini. Selain situs-situs terkait Van Gogh, desa ini juga menyimpan keajaiban kecil lainnya, seperti La Caverne Aux Livres – sebuah toko buku bekas yang unik karena menggunakan kereta tua untuk menyimpan koleksi bukunya. Banyak pengunjung yang terpikat begitu lama hingga terlambat naik kereta pulang. Meskipun makam Van Gogh kini dikunjungi oleh sekitar 200.000 orang setiap tahun, pada Oktober 2015 sebuah badai dahsyat melanda desa dan menyebabkan kerusakan serius. Atap gereja dekat pemakaman ambruk, dan nisan-nisan mengalami kerusakan akibat genangan air. Institut Van Gogh kemudian menggalang dana untuk restorasi, dengan harapan tempat peristirahatan terakhir sang pelukis bisa tetap lestari untuk generasi mendatang. Tradisi kecil pun muncul di kalangan wisatawan – memberikan sumbangan sederhana untuk membantu memperbaiki makam dan gereja yang dicintai Vincent

 Auvers-sur-Oise bukan hanya sebuah desa dengan makam seorang seniman besar. Ini adalah tempat di mana cerita hidup, cinta saudara, dan karya seni yang abadi bertemu. Setiap jalan, setiap bangunan, bahkan setiap ladang gandum di sini menyimpan jejak-jejak Vincent van Gogh – yang meskipun hidupnya penuh dengan kesulitan dan kesepian, telah meninggalkan karya-karya yang terus menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Bagi yang ingin mengunjungi, perjalanan dari Paris ke Auvers-sur-Oise memakan waktu sekitar satu jam dengan kereta. Untuk menghindari keramaian   disarankan untuk datang pada hari kerja dan menghindari liburan sekolah Prancis pada akhir Mei dan awal Juni.

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id