Breaking News

Kematian: Takdir yang Pasti, Perjalanan Menuju Abadi. Oleh: Hamid Nabhan

 


   Pagi ini, saya baru saja menerima kabar duka yang mengabarkan seorang teman telah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ini. Berita ini memunculkan rasa perenungan dalam hati; pikiran saya terbang jauh—betapa dekatnya kematian dengan kita semua, namun seringkali kita lupa bahwa hari ini, atau suatu hari nanti, kapanpun itu, kita juga akan menghadapinya dengan sendirinya.

   Kematian adalah bagian tak terpisahkan dari eksistensi setiap makhluk hidup di alam semesta ini. Tak ada satu pun makhluk yang bisa melarikan diri dari takdir yang pasti ini, tidak peduli seberapa muda atau tua usianya, seberapa kuat atau lemahnya tubuh kita, seberapa kaya atau miskin kondisi kita. Secara alamiah, kematian menandai akhir dari proses kehidupan fisik tubuh kita, di mana semua fungsi biologis berhenti bekerja. Seperti yang tertulis dalam kitab suci, bahwa setiap yang bernafas akan mengalami kematian. Namun di balik itu semua, kematian juga membawa pesan penting bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini sangat terbatas.

   Pesan tersebut seharusnya menjadi pijakan bagi kita untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. Alih-alih melihatnya sebagai hal yang menakutkan atau menyedihkan, kita bisa mengambil hikmah bahwa setiap detik yang kita lewati harus diisi dengan kebaikan, rasa syukur, dan penghargaan terhadap orang-orang di sekitar kita. Banyak orang yang baru menyadari nilai hidup sebenarnya setelah menyaksikan atau merasakan kehilangan seseorang yang dicintai. Kematian mengingatkan kita bahwa apa yang kita miliki di dunia ini hanya sementara; semua adalah titipan yang diberikan Tuhan kepada kita. Sementara hal-hal yang kita lakukan untuk sesama dan nilai-nilai yang kita anut akan terus hidup sebagai bekal di alam yang lain.

   Dalam ajaran para nabi, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan sebuah transisi menuju kehidupan yang lebih abadi yaitu alam akhirat. Kematian disebut sebagai al-mawt, yang berasal dari akar kata yang berarti "sempurna". Maka sempurnalah kita sebagai manusia setelah mengalami kematian, karena kita bukanlah makhluk yang abadi. Semua ini telah ditentukan oleh Tuhan sejak awal penciptaan manusia. Kita perlu saling mengingatkan untuk selalu bersiap menghadapi kematian, karena ia adalah ujian pertama yang akan dihadapi setiap hamba setelah kehilangan nyawa fisik. Ajaran agama mengajarkan bahwa di saat ajal tiba, seorang hamba harus menghadapinya dengan sabar dan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa dan Maha Baik. Kita diajarkan untuk tidak takut secara berlebihan pada kematian, namun lebih fokus pada bagaimana menjalani hidup dengan benar—saling mencintai, menyayangi, dan berbuat baik kepada sesama. Dengan demikian, kematian bukanlah akhir yang ditakuti, melainkan perjalanan menuju rumah yang sesungguhnya.

 

 Surabaya, 14 Januari 2026

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id