Breaking News

Juliana Seraphim: Seniman Surrealis Palestina yang Menyatukan Memori dan Fantasi Oleh: Hamid Nabhan


   Juliana Seraphim lahir di Jaffa pada tahun 1934.  Jaffa, sebuah kota pantai yang ramai di Palestina . Kehidupannya berubah drastis pada tahun 1948 ketika peristiwa Al-Nakba* terjadi – ia dan keluarganya terpaksa melarikan diri sebagai bagian dari jutaan pengungsi Palestina yang kehilangan tanah air. Mereka pertama kali melarikan diri dengan kapal ke kota Sidon di Lebanon sebelum akhirnya menetap di Beirut pada tahun 1952. Sebagai pengungsi Palestina  Kristen, ia mendapatkan kewarganegaraan Lebanon – sebuah kesempatan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar pengungsi Muslim Palestina pada masa itu – yang membuka jalan baginya untuk mengeksplorasi dunia seni tanpa batasan yang terlalu ketat. Sebelum fokus pada karya seni, Seraphim bekerja selama beberapa tahun di UNRWA (Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina), di mana ia secara langsung menyaksikan penderitaan para pengungsi dan hal ini menjadi salah satu sumber inspirasi dalam karyanya kelak.

   Di Beirut, Seraphim mulai menjelajahi minatnya pada seni rupa dengan belajar langsung di bawah bimbingan pelukis Lebanon ternama Jean Khalifé. Di atelier sang guru, ia mengembangkan dasar-dasar teknik melukis dan menggelar pameran pertamanya – sebuah tonggak penting yang membuatnya yakin untuk mengejar karir sebagai seniman profesional. Setelah itu, ia melanjutkan studi formal di Akademi Seni Rupa Lebanon, dimana ia memperdalam pemahaman tentang sejarah seni dan berbagai gaya lukis. Berkat prestasinya yang menonjol, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri: belajar selama satu tahun di Florence pada tahun 1959, kemudian di Akademi Kerajaan San Fernando di Madrid pada tahun 1960. Pengalaman belajar di Eropa membuka wawasannya tentang perkembangan seni modern dan surrealisme yang sedang berkembang pesat di benua itu. Setelah kembali ke Beirut, Seraphim bergabung dengan kelompok seniman "Ras Beirut" – komunitas kreatif yang menjadi pusat perkembangan seni modern di Lebanon. Pada tahun 1961, ia berpartisipasi dalam edisi pertama pameran Salon d'Automne di Museum Sursock, sebuah acara yang menjadi titik awal pengakuan publik terhadap karyanya.

   Seiring berkembangan  gaya dan kemampuannya, Seraphim mulai dikenal tidak hanya di Lebanon tetapi juga di kancah internasional. Ia dipercaya mewakili Lebanon di tiga biennale besar dunia: Biennale Alexandria (1962), Biennale Paris (1963 dan 1969), serta Biennale São Paulo (1965). Karyanya juga dipamerkan di berbagai galeri dan museum ternama di seluruh dunia, antara lain Museum Sursock dan Galeri Station des Arts di Beirut, Musée du Surréalisme dan Institut du Monde Arabe di Paris, Jordan National Gallery of Fine Arts di Amman, The Metropolitan Museum of Art di New York, Barjeel Art Foundation di Sharjah, Richard Saltoun Gallery di New York dalam pameran grup "Butterfly Time: A Group Exhibition Of Women In Surrealism" tahun 2024, serta Andrew Kreps Gallery di New York dengan pameran tunggal bertajuk "The Flower Woman" tahun 2025. Selain itu, pada tahun 1971 ia mendapat komisi penting dari Shorewood Publishers New York untuk membuat 27 goresan tembaga untuk mengilustrasikan antologi karya sembilan pemenang Hadiah Nobel Sastra, termasuk Miguel Ángel Asturias dan T.S. Eliot.

 

   Berbeda dengan rekan seniman Palestina yang banyak mengangkat isu politik secara langsung melalui gaya figuratif, Seraphim memilih jalan surrealisme dengan bahasa visual yang unik dan kaya makna. Pada awal 1960-an, ia fokus pada lukisan lanskap kota dan arsitektur dengan gaya abstrak impresionis seperti dalam karya *Clear Winter Night under the Snow in Baalbek*. Pada tahun 1970-an, gaya surrealismenya muncul secara penuh dengan bentuk-bentuk yang mengalir dan menyatu – seperti pada *Untitled* (1978) yang menggabungkan mata, makhluk laut, dan sosok wanita halus. Tahun 1990-an menjadi masa puncaknya dengan komposisi yang lebih rinci dan penggunaan garis hitam serta cat emas metalik, contohnya *Dream of Samarkand* dan *Orphée*. Karyanya terinspirasi oleh kenangan masa kecil di pantai Jaffa dan lukisan dinding makhluk bersayap di rumah kakeknya yang dulunya adalah biara di Yerusalem. Motif khasnya meliputi sosok wanita yang menyatu dengan elemen alam seperti dalam *Flower Woman* (Femme fleur) tahun 1973, burung, bunga mistis, bentuk arsitektural, dan simbol mitologis seperti dalam *La Danse d'Ishtar* tahun 1994. Ia mengeksplorasi memori, identitas, keperempuanan, sensualitas, dan kerinduan spiritual. Karyanya juga menantang norma patriarki zamannya dengan menyajikan perempuan sebagai sosok yang kompleks, tangguh, dan penuh makna – ia pernah menyatakan bahwa perempuan Lebanon "melengkapi diri dengan harapan dan keyakinan sebagai salah satu rahasia kelangsungan hidup negara tersebut".

   Meskipun tidak banyak menerima penghargaan formal dalam bentuk anugerah tertentu, pengakuan terhadap karyanya tercermin dari masuknya karya-karyanya ke dalam koleksi museum dan lembaga seni ternama di dunia. Pada pasar lelang, karyanya juga menunjukkan nilai yang terus meningkat – rekor harga tertingginya mencapai US$85 juta di Phillips pada tahun 2022. Karya-karyanya juga sering menjadi bagian dari pameran penting yang memperkenalkan seni modern Timur Tengah ke khalayak internasional, seperti pada pameran "Middle East Moderne & Contemporain" di Mark Hachem Gallery tahun 2023. Juliana Seraphim meninggal dunia di Beirut pada tahun 2005, namun warisannya sebagai salah satu seniman perempuan yang mengangkat nama Palestina di kancah seni dunia tetap hidup. Karyanya tidak hanya menjadi jembatan antara memori masa lalu dan fantasi masa depan, tetapi juga menjadi bukti kekuatan seni dalam menyampaikan cerita identitas dan perjuangan yang sering terlupakan.

*Pengusiran besar-besaran yang terjadi selama Al-Nakba tahun 1948 melibatkan seluruh lapisan masyarakat Palestina, termasuk bayi dan anak-anak yang menjadi bagian dari jutaan orang yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka. Menurut data UNRWA, lebih dari setengah populasi Palestina pada saat itu mengalami pengungsian, dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak traumatis dari peristiwa tersebut, baik secara fisik maupun psikologis. Seiring waktu, pengungsian ini menjadi masalah yang berkelanjutan, dengan lebih dari 5 juta pengungsi Palestina tersebar di seluruh Timur Tengah hingga saat ini 

(sumber: https://www.un.org/unispal/about-the-Nakba/).

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id