Breaking News

HUT ke-25 Desa Tendakinde, Ketua DPRD Nagekeo Tekankan Persatuan hingga Program Makan Bergizi Gratis Tendakinde


Nagekeo - MetroGlobalNews. Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Shafar Laga Rema, bersama Wakil Ketua DPRD Nagekeo Yohanes Siga serta Kevikepan Mbay, menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Desa Tendakinde, Senin (5/1/2026). Kehadiran unsur legislatif dan gereja tersebut menegaskan kuatnya sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat desa dalam mendorong pembangunan manusia dari tingkat paling dasar.

Dalam sambutannya, Shafar Laga Rema mengajak masyarakat Desa Tendakinde untuk tidak memaknai peringatan ulang tahun desa sebatas seremoni, melainkan sebagai momentum refleksi, evaluasi, dan penguatan arah pembangunan desa ke depan.

“Ulang tahun ke-25 ini harus menjadi titik tolak untuk memperkuat persatuan, meningkatkan produktivitas, serta menjaga dan merawat nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas kita bersama,” tegas Shafar.

Ia mengaitkan momentum HUT Desa Tendakinde dengan program pastoral Keuskupan Agung Ende Tahun 2025 yang dicanangkan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, khususnya agenda pembaruan diri, pembangunan relasi yang sehat, Gerakan KUB Ramah Anak, serta kepedulian terhadap ibu hamil.

Pada kesempatan tersebut, Ketua DPRD Nagekeo juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digulirkan Pemerintah Pusat. Menurutnya, masih terdapat kesalahpahaman di tengah masyarakat terkait sasaran dan tujuan program tersebut.

“Program ini sering disalahpahami. Karena itu penting untuk diluruskan agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang keliru,” ujarnya.

Shafar menjelaskan, Program Makan Bergizi Gratis menyasar empat kelompok utama, yakni ibu hamil, bayi, balita, serta peserta didik mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas. Penetapan sasaran tersebut, kata dia, didasarkan pada pertimbangan strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ia memaparkan bahwa sekitar 80 persen perkembangan kecerdasan otak manusia terjadi sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan, sementara 20 persen sisanya berkembang pada masa remaja. Karena itu, intervensi gizi pada fase awal kehidupan menjadi faktor penentu kualitas generasi masa depan.

“Jika fase-fase ini diabaikan, maka kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi mendatang,” tandasnya.

Lebih lanjut, Shafar menegaskan bahwa keberhasilan program gizi tidak dapat dibebankan semata kepada pemerintah pusat. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, gereja, hingga keluarga.

“Jika semua stakeholders memahami dan menjalankan program ini secara konsisten dan konsekuen, maka target generasi emas Indonesia tidak akan berhenti sebagai slogan,” katanya.

Perayaan HUT ke-25 Desa Tendakinde pun menjadi ruang konsolidasi gagasan bersama, bahwa pembangunan desa tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga investasi jangka panjang pada kesehatan, kecerdasan, dan kualitas manusia.

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id