Kenangan pada masa sekolah dasar di SD Al-Irsyad Surabaya selalu menghiasi ingatan saya setiap kali melihat deretan buku di rak kamar. Saat itu, setiap hari kita wajib membawa pulang satu buku bacaan dari sekolah, namun benih kecintaan saya pada dunia membaca sebenarnya tumbuh dari sosok ayah yang sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku. Tak hanya menjadi contoh hidup, ayah juga selalu memberikan hadiah buku sastra setiap ada momen spesial – mulai dari buku cerita anak hingga karya-karya klasik yang membuat hasrat saya untuk mengeksplorasi halaman-halaman buku semakin membara.
Ada pepatah Arab yang telah lama menginspirasi saya yang mengatakan "Buku adalah guru yang tak pernah bosan." Kata-kata bijak ini benar-benar mencerminkan makna sejati dari sebuah buku. Meskipun pendidikan formal di sekolah memberikan dasar pengetahuan yang kokoh, banyak hal berharga yang hanya bisa kita temukan melalui membaca di luar pelajaran sekolah. Ilmu yang diperoleh dari buku tidak hanya melengkapi apa yang diajarkan di kelas, tetapi juga membuka cakrawala pandangan tentang berbagai budaya, zaman, dan cara berpikir yang berbeda. Seperti yang dikatakan oleh Rene Descartes, salah satu filsuf besar dunia: "Membaca semua buku bagus seperti percakapan dengan (orang) terbaik di abad yang lalu." Melalui buku, kita bisa belajar langsung dari pemikiran tokoh-tokoh hebat tanpa harus bertemu mereka secara fisik.
Perjalanan saya dalam dunia sastra semakin luas ketika orang tua mulai memberikan buku-buku terjemahan karya penulis dunia. Meskipun awalnya hanya membaca versi ringkasan, karya-karya seperti "Perjalanan ke Pusat Bumi" karya Jules Verne, "The Three Musketeers" dari Alexandre Dumas, dan "Treasure Island" karya Robert Louis Stevenson berhasil mencuri hati saya. Cerita-cerita penuh petualangan dan imajinasi mereka membuat saya terpesona, hingga akhirnya saya bertekad untuk membaca karya penuhnya. Tak hanya itu, saya juga mulai mengenal sosok-sosok tokoh dunia yang sukses berkat kecintaan mereka pada buku. Albert Einstein, ilmuwan jenius yang mengubah pandangan dunia tentang fisika, pernah mengaku bahwa ia selalu menghabiskan waktu untuk membaca buku dari berbagai bidang ilmu – bukan hanya fisika, tetapi juga filsafat, sastra, dan sejarah. Ia menyatakan bahwa pembacaan yang luas membantu ia melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang kreatif.
Begitu juga dengan Oprah Winfrey, seorang tokoh bisnis dan pembawa acara dunia yang berasal dari latar belakang sederhana. Kecintaannya pada membaca menjadi dasar bagi kesuksesannya – ia bahkan mendirikan klub buku yang dikenal secara global dan selalu merekomendasikan bacaan yang menginspirasi. Menurut Oprah, "Buku adalah kunci yang membuka pintu menuju kemungkinan tak terbatas." Manfaat yang saya rasakan sendiri dari membaca juga tak kalah berharga: selain memperdalam pemahaman dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik, buku juga menjadi teman setia yang membuat saya tidak pernah merasa kesepian. Saat sedang membaca, saya bisa terbang ke berbagai belahan dunia, merasakan kehidupan karakter dalam cerita, dan bahkan mengalami zaman yang sudah berlalu. Seperti yang dikatakan oleh Ernest Hemingway: "Tidak ada teman yang setia seperti buku."
Tak hanya itu, banyak penelitian yang membuktikan manfaat luar biasa dari kebiasaan membaca. Seperti yang diungkapkan dalam berbagai sumber, membaca dapat menstimulasi otak, mengurangi stres hingga 67%, meningkatkan kemampuan empati, dan bahkan membantu mencegah penyakit Alzheimer serta penurunan fungsi kognitif seiring bertambahnya usia. Stephen King, penulis horor terbaik dunia, pernah menyebut buku sebagai "sihir portabel yang unik" – dan memang benar, karena melalui kata-kata di dalam buku, kita bisa mengalami hal-hal yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, sekaligus mendapatkan pelajaran berharga tentang hidup.
Kecintaan saya pada buku juga menginspirasi saya untuk mulai menulis sendiri. Setiap cerita yang saya baca memberikan ide baru dan dorongan untuk menuangkan pikiran, pengalaman, dan imajinasi ke dalam tulisan. Baik itu cerita pendek yang saya bagikan dengan teman-teman, catatan harian yang menjadi jendela hati saya, atau bahkan gagasan awal untuk sebuah novel yang ingin saya tulis kelak – semua permulaannya berasal dari kebiasaan membaca yang tumbuh sejak saya duduk di bangku sekolah dasar.
Saat ini, membaca bukan hanya sekadar hobi, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan saya yang terus memberikan warna, makna, dan pertumbuhan pribadi. Buku telah mengajarkan saya tentang keberanian, empati, kegigihan, dan cara melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih kaya. Seperti yang dikatakan oleh Mala Yousafzai, aktivis perdamaian dan penerima Hadiah Nobel: "Satu buku, satu pena, satu anak, dan satu guru dapat mengubah dunia." Saya percaya bahwa setiap buku yang kita baca tidak hanya mengubah diri kita sendiri, tetapi juga memiliki potensi untuk membawa perubahan positif bagi dunia sekitar kita.
Namun, untuk dapat merasakan manfaat luar biasa dari buku seperti yang telah saya sampaikan, ketersediaan dan keterjangkauannya menjadi hal krusial. Saat ini, masih banyak anak-anak bangsa yang kesulitan untuk membeli atau mengakses buku karena faktor harga maupun ketersediaan di daerah-daerah. Oleh karena itu, saya menghimbau kepada pemerintah agar dapat mengambil langkah-langkah konkrit untuk memastikan buku-buku berkualitas dapat terjangkau dengan kemampuan ekonomi masyarakat luas. Hal ini diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga secara signifikan mengangkat daya baca bangsa yang saat ini masih perlu ditingkatkan.
Surabaya, 19 Januari 2026

Social Header