Breaking News

Sekda Nagekeo Tegaskan Empat Pilar Kebangsaan Benteng Persatuan di Tengah Tantangan Zaman


Nagekeo — mgn.id. Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo, Imanuel Ndun, M.Si, menegaskan pentingnya pemahaman utuh terhadap Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta merawat keberagaman bangsa di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan perkembangan teknologi.

Penegasan tersebut disampaikan Imanuel Ndun saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Kegiatan ini turut menghadirkan Anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Thomas Mega Maso, sebagai pemateri, serta dimoderatori oleh Kepala Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Yohanes Lado.

Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh peserta yang berasal dari tujuh kecamatan di Kabupaten Nagekeo dan berlangsung dalam suasana dialogis, kritis, serta penuh antusiasme.

Dalam pemaparannya, Imanuel Ndun menjelaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sejatinya merupakan agenda konstitusional yang secara rutin dilaksanakan oleh pejabat negara, dalam hal ini Julie Sutrisno Laiskodat selaku Anggota DPR RI, sebagai bentuk tanggung jawab moral dan politik dalam memperkuat wawasan kebangsaan masyarakat.

“Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar konsep normatif, tetapi menjadi landasan hidup berbangsa dan bernegara yang harus dipahami secara utuh oleh setiap warga negara,” tegas Imanuel.

Ia menguraikan bahwa Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan satu kesatuan nilai yang saling menguatkan dan tidak dapat dipisahkan dalam praktik kehidupan berbangsa.

“Keutuhan NKRI, pengamalan nilai-nilai Pancasila, ketaatan terhadap UUD 1945, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika adalah kunci utama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Imanuel menyoroti tantangan serius yang dihadapi generasi saat ini, khususnya generasi muda, yang semakin terpapar oleh arus informasi digital dan perubahan budaya global. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mengikis nilai-nilai luhur kebangsaan jika tidak diimbangi dengan pendidikan dan sosialisasi yang berkelanjutan.

“Pemerintah ingin menyegarkan kembali ingatan generasi saat ini yang sudah sangat terpengaruh oleh teknologi. Nilai-nilai luhur yang bersifat kultural harus terus dihidupkan agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya.

Pada sesi diskusi, sejumlah peserta melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis, termasuk soal pemetaan pembangunan yang dinilai masih belum merata dan masih menyisakan ketimpangan antarwilayah di Kabupaten Nagekeo. Diskusi tersebut mencerminkan tingginya kesadaran kritis masyarakat terhadap isu kebangsaan dan keadilan pembangunan.

Menanggapi hal itu, Imanuel menegaskan bahwa kritik dan masukan masyarakat merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Namun demikian, ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh lelah dan jenuh untuk terus melakukan edukasi kebangsaan.

“Sejatinya, pemerintah tidak boleh jenuh untuk terus memberikan pemahaman kepada generasi muda dan masyarakat luas. Selama nilai kebangsaan terus ditanamkan, keutuhan NKRI akan tetap terjaga,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Pemuda Cabang Katolik Nagekeo, Ermelinda Noh Wea, menyampaikan apresiasi kepada Julie Sutrisno Laiskodat selaku Anggota DPR RI yang telah menginisiasi dan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Kabupaten Nagekeo.

Menurut Ermelinda, kegiatan tersebut sangat strategis dan relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini, terutama dalam memperkuat pemahaman ideologi negara di tengah tantangan disintegrasi dan polarisasi sosial.

“Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional memuat lima sila yang menjadi pedoman hidup bangsa Indonesia. Sementara Undang-Undang Dasar 1945 merupakan konstitusi negara yang menjadi landasan hukum tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

“NKRI menegaskan kesatuan wilayah dan kedaulatan bangsa Indonesia, sedangkan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita bahwa perbedaan suku, agama, ras, dan budaya bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu,” jelas Ermelinda.

Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan tidak boleh berhenti pada tataran seremonial, melainkan harus terus diwariskan dan ditanamkan secara berkelanjutan.

“Sosialisasi ini harus terus didaraskan dari generasi ke generasi, sehingga masyarakat benar-benar memahami nilai-nilai kebangsaan secara utuh dan benar,” pungkasnya.

(Red)

© Copyright 2022 - metroglobalnews.id