​Menurut manuskrip yang saya baca yang berjudul "Majmu' fi Tarikh Dzalik Al-Tahliah wal-I'lham wal-Waqai' wal-Akhbar" (Himpunan dalam Sejarah Perhiasan, Ilham, Peristiwa, dan Berita...), sebuah catatan berharga yang dihimpun dan ditulis oleh Sultan Muthlaq bin Sultan Shalih Al-Kathiri, serta disalin kembali oleh Syekh Salim Mutlik, kisah ini bermula dari sebuah langkah besar pada bulan Sya'ban tahun 1330 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1912 Masehi.

   ​Penulis naskah aslinya sekaligus pelaku utama yang saat itu masih berusia sekitar sepuluh tahun bernama Sultan Muthlaq bin Sultan Shalih Al-Kathiri mengisahkan perjalanan luar biasa keluarganya yang bertolak meninggalkan kampung halaman di Wadi Al-Ain, Hadramaut. Perjalanan awal dimulai dengan menempuh jalur darat menuju pelabuhan Mukalla, di mana mereka kemudian menaiki kapal uap bernama Bashar untuk menyeberangi lautan menuju Bombay, India. Dalam pelayaran awal ini, kapal sempat mengalami hantaman ombak besar yang merusak tiang utamanya hingga memaksa mereka singgah selama dua belas hari untuk perbaikan, sebelum akhirnya melanjutkan rute melalui Ceylon (Sri Lanka) dan Singapura hingga akhirnya tiba dan bermukim cukup lama di Banjarmasin, Hindia-Belanda.

   ​Setelah sekian lama tinggal di Banjarmasin, niat untuk menunaikan perjalanan panjang ke Tanah Suci, Mesir, dan Syam pun bulat. Pada awal Ramadan tahun 1330 Hijriah, keluarga ini bersama rombongan berangkat dari Banjarmasin menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan darat dengan kereta api ke Batavia. Tepat pada tanggal 1 Ramadan, mereka resmi menaiki kapal uap besar milik perusahaan Stoomvaart Maatschappij "Nederland" dari Pelabuhan Batavia. Di atas kapal, mereka bergabung bersama para musafir dan penuntut ilmu lainnya, menghuni area palka kelas dua dan tiga, di mana kehidupan harian diatur secara sangat disiplin dan terstruktur.

   Dalam catatan manuskrip ​disebutkan bahwa setiap hari di atas kapal berjalan mengikuti ritme waktu yang ketat. Pagi hari dimulai pukul enam dengan jatah sarapan berupa kopi susu, roti, mentega, keju, dan setengah butir telur. Menjelang tengah hari, para penumpang menerima hidangan utama berupa nasi dan daging. Ketika sore hari menginjak pukul lima atau waktu Asar, dibagikan jatah teh hangat bersama biskuit, yang kemudian ditutup dengan makan malam berupa nasi dan daging selepas shalat Isya serta secangkir kopi susu hangat pengantar tidur.

   ​Kedisiplinan pelayaran juga dijaga melalui sistem lonceng kapal atau naquq yang dibunyikan untuk menandai pergantian waktu jaga malam, serta lampu isyarat berwarna hijau, merah, dan kuning di tiang kapal guna menghindari bahaya tabrakan di jalur pelayaran yang padat.

   ​Pelayaran panjang tersebut melintasi Samudra Hindia yang luas, melewati Selat Bab al-Mandab, hingga merapat di Pelabuhan Perim, sebuah pulau kecil berbenteng di bawah kendali Inggris yang sibuk dengan stasiun pengisian batu bara. Dari sana, kapal memasuki perairan Laut Merah dan merapat di Pelabuhan Suez, tempat di mana para petugas kesehatan naik untuk melakukan pemeriksaan ketat terhadap para penumpang.

   ​Penulis manuskrip ini mencatat dengan teliti dan detail bagaimana mereka kemudian memasuki Terusan Suez, sebuah jalur air buatan sepanjang 161 mil yang sangat sempit dan hanya cukup dilalui oleh satu jalur kapal dalam satu waktu. Di sepanjang terusan tersebut, terdapat sekitar enam puluh stasiun pengawas yang mengatur lalu lintas pelayaran dunia menggunakan isyarat optik.

   ​Catatan perjalanan ini tidak sekadar merekam urusan logistik dan rute geografi semata, tetapi juga memotret lanskap geopolitik dunia pada masa peralihan kekuasaan awal abad ke-20.

​Pesisir Afrika dan Laut Merah digambarkan berada di bawah pengaruh kekuatan kolonial Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Italia, sementara daratan Jazirah Arab berada dalam naungan Kesultanan Utsmaniyah. 

   Lebih jauh lagi, kisah migrasi dan mobilitas keluarga dari Hadramaut ini merefleksikan bagian dari sejarah panjang jejaring perantauan diaspora yang sejak lama telah mengisi serta memperkaya dinamika perkembangan sejarah, sosial, dan keagamaan di Nusantara. 

   Melalui goresan pena seorang anak sepuluh tahun yang melihat dunia luar untuk pertama kalinya, manuskrip ini menjelma menjadi arsip sejarah maritim yang hidup, merekam ketangguhan mental para musafir Nusantara dan Hadramaut yang menembus batas samudra demi memenuhi panggilan spiritual dan mengarungi bentang zaman.