​Menulis dan membaca sejarah tidak boleh bersandarkan pada asumsi, melainkan harus berpijak pada dokumen dan fakta otentik. Salah satu bukti sejarah yang sangat berharga baru-baru ini kembali membuka mata kita. Selembar arsip koran lama yang terbit pada pertengahan Maret 1946 yang saya temukan menjadi saksi bisu betapa gigihnya negara-negara Arab dan dunia Islam dalam mengawal serta mendukung penuh lahirnya Republik Indonesia di panggung internasional.

   ​Di dalam koran berejaan lama tersebut, terpampang sebuah tajuk utama yang sangat menggetarkan: "SELOEROEH DOENIA ARAB DAN ISLAM BERDIRI DIBELAKANG BANGSA INDONESIA". Judul besar ini bukan sekadar pemanis berita, melainkan sebuah pernyataan politik yang tegas dari Timur Tengah di kala umur Republik Indonesia belum genap satu tahun dan posisinya masih digoyang oleh kembalinya kekuatan kolonial Barat.

   ​Berita tersebut memuat telegram diplomatik dari Abd. Rachman Azzam Bey, Sekretaris Jenderal Liga Arab yang pertama di Kairo, Mesir. Melalui utusan khusus Inggris, Sir Archibald Clark Kerr, dunia Arab secara terbuka mendesak dunia internasional untuk mempertahankan keadilan, kebebasan, dan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.

   Hubungan batin yang telah terikat erat selama berabad-abad lewat jalur ibadah haji, melahirkan rasa persaudaraan yang melampaui batas geografis. Dunia Arab tidak tinggal diam, mereka pasang badan menyuarakan hak Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri.

​Keberadaan arsip tahun 1946 ini menjadi sangat penting hari ini sebagai upaya untuk meluruskan sejarah. Ia mengingatkan generasi muda bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini tidak berdiri di ruang hampa, melainkan ditegakkan di atas fondasi solidaritas internasional yang kuat dari saudara-saudara kita di Timur Tengah sejak hari-hari pertama Republik ini berdiri.