Di tengah peta seni rupa dunia abad ke-20 dan awal abad ke-21, nama Paula Rego (1935–2022) berdiri tegas sebagai salah satu suara paling kuat, jujur, dan tak tergoyahkan. Sebagaimana dicatat oleh lembaga seni ternama Tate Britain, ia diakui luas sebagai seniman wanita terpenting dan paling menonjol pada masanya, yang seumur hidupnya menempatkan perempuan di pusat setiap karyanya. Bahkan media terkemuka BBC Culture pernah menurunkan tulisan besar yang mempertanyakan: "Paula Rego: Apakah Ini Seniman Terbesar yang Masih Hidup di Inggris?", sebuah bukti betapa tingginya penghargaan dunia seni internasional terhadap sosoknya. Pelukis kelahiran Lisbon, Portugis ini bukan sekadar pembuat gambar, melainkan seorang pencerita ulung yang membedah tabu, mengungkap ketidakadilan, dan memberikan wajah pada apa yang selama ini sering disembunyikan: perasaan, penderitaan, dan kekuatan perempuan. Karyanya menjadi jembatan antara dunia dongeng dan realitas pahit, antara keindahan bentuk dan pesan politik yang tajam.

   Seperti ditulis oleh The Metropolitan Museum of Art, karya seninya adalah salah satu yang paling mendalam bermuatan politik, di mana setiap goresan tidak hanya bercerita, tetapi juga menuntut keadilan dan perubahan pandangan. Sementara itu, The Art Story menegaskan bahwa dalam karya-karyanya, kontradiksi kemanusiaan sepenuhnya terungkap: fantasi dan kenyataan, kekuatan dan penindasan, hal pribadi dan hal politik semuanya berputar dalam satu dialog yang kuat. Galeri Victoria Miro, perwakilan resminya, mencatat bahwa kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menarasikan pengalaman manusia, terutama pengalaman perempuan, dengan kejujuran yang tak tergoyahkan dan imajinasi yang liar namun tepat sasaran. Menurut The Art Section, karyanya berdiri dalam tradisi besar seni Iberia, seperti Goya dan El Greco, yang berani melukis ketakutan, penderitaan, dan sisi gelap manusia dengan lugas dan tanpa topeng.

   Maria Paula Figueiroa Rego lahir pada 26 Januari 1935 di Lisbon, saat negaranya berada di bawah rejim diktator Antonio de Oliveira Salazar yang represif dan tertutup. Ayahnya, seorang insinyur listrik yang bercita-cita liberal dan anti-fasis, melihat masa depan yang sempit dan penuh pembatasan bagi anak perempuannya di bawah kekuasaan itu. Sejak kecil, Paula diasuh neneknya, yang mengenalkannya pada cerita rakyat Portugis, sajak anak-anak, dan kisah-kisah penuh nuansa gelap, aneh, dan dramatis, hal yang kelak menjadi akar utama imajinasinya seumur hidup. Ia pernah berkata, "Orang Portugis memiliki budaya yang menghasilkan kisah-kisah paling mengerikan yang bisa kau bayangkan".

   Pada usia 17 tahun, Paula dikirim ke London untuk bersekolah, lalu melanjutkan pendidikan seni di Slade School of Fine Art (1952–1956), tempat ia bertemu suaminya, pelukis Victor Willing. Di sana pula ia bergabung dan aktif berkarya dalam kelompok seniman ternama The London Group, satu wadah yang sama menaungi nama-nama besar seperti David Hockney dan Frank Auerbach. Ironisnya, meski gaya dan lingkungannya sangat dekat dengan gerakan “Sekolah London”, nama Rego sering kali diabaikan dalam catatan sejarah kelompok itu yang didominasi laki-laki, sebuah kenyataan yang mencerminkan perjuangan seniman wanita yang ia angkat terus-menerus dalam karyanya.

   Sejak saat itu, hidupnya terbelah namun diperkaya oleh dua budaya: akar Portugis yang kental dengan tradisi Katolik dan sejarah kelam, serta pandangan Inggris yang lebih bebas dan rasional. Ia menetap permanen di London pada tahun 1963, namun jiwa dan sumber ilhamnya tak pernah lepas dari tanah kelahirannya. Puncak pengakuan datang pada tahun 1989, ketika ia terpilih menjadi Seniman Tetap (Artist-in-Residence) pertama dalam sejarah Galeri Nasional London, menandai tingginya penghargaan dunia seni terhadap kualitas pemikirannya.

   Perjalanan kariernya ditandai pameran besar di seluruh dunia: mulai dari Museum Reina Sofia Madrid (2007), Galeri Seni Nasional Wanita Washington DC (2008), hingga retrospektif besar Obedience and Defiance yang berkeliling Inggris dan retrospektif utama di Tate Britain pada tahun 2021. Tahun-tahun terakhir hidupnya pun masih diwarnai karya besar dan pengakuan dunia. Pada tahun 2022, sesaat sebelum ia berpulang, karya-karya terbarunya dipamerkan di Venesia dalam pameran berjudul “Secrets of Faith”, berbarengan dengan partisipasinya dalam Biennale Seni Venesia ke-59. Dalam seri ini, ia mengangkat kisah hidup Bunda Maria, namun bukan sebagai sosok suci yang jauh dan dingin, melainkan sebagai seorang perempuan yang nyata: merasakan sakit saat melahirkan, cemas, berduka, dan bahagia. Ia menanggalkan gambaran suram tradisional, menempatkan pengalaman tubuh dan perasaan perempuan di pusat kisah agama, dan berkata: “Dari semua lukisan saya, inilah yang paling menyenangkan saya buat”. Ia meninggal dunia di London pada 8 Juni 2022, meninggalkan karya yang kini dipajang di museum-museum besar dunia, dari MoMA dan The Met di New York hingga Tate dan Galeri Nasional London. Sebuah museum khusus, Casa das Histórias Paula Rego, didirikan di Cascais, Portugis, untuk menjaga warisan karyanya.

   Karya awal Paula Rego sempat dipengaruhi surealisme dan bentuk-bentuk abstrak, penuh potongan gambar dan kolase yang mencerminkan kekacauan dunia di sekitarnya. Namun seiring waktu, gayanya berubah tajam ke arah seni figuratif, menggambar manusia, wujud nyata, dan cerita yang jelas. Sebagaimana dicatat dalam arsip Tate, ia lebih memilih menggunakan media pastel dibandingkan cat minyak untuk sebagian besar masa kariernya, karena sifatnya yang langsung, cepat, dan mampu menciptakan tekstur lembut sekaligus garis yang keras dan tegas. Bagi Rego, media ini menjadi cara untuk mendekatkan diri pada subjeknya, seolah-olah ia sedang menyentuh langsung kisah yang sedang ia gambarkan. Ia juga aktif membuat cetakan seni, etsa, litografi, dan instalasi, memperluas caranya bercerita ke berbagai bentuk.

   Yang membuat lukisannya unik adalah cara ia membangun narasi. Paula Rego mengambil bahan dari mana saja: dongeng anak, legenda Portugis, kisah sastra seperti Jane Eyre, kisah agama, sejarah, hingga berita harian dan pengalaman pribadi. Ia sering menggunakan model tetapnya, Lila, sebagai acuan bentuk perempuan dalam karyanya, sehingga wajah dan postur tubuhnya memiliki karakter yang konsisten dan kuat. Namun ia tidak sekadar menceritakan kisah itu; ia membalikkan maknanya. Dalam tangannya, tokoh-tokoh dongeng berubah menjadi simbol penindasan atau pemberontakan, dan perempuan yang biasanya digambarkan lemah atau pasif, tampil menjadi sosok yang kompleks, marah, sedih, memberontak, atau bahkan mengerikan, namun sangat manusiawi. Ia percaya bahwa “kita menafsirkan dunia melalui cerita... semua orang berusaha memahami sesuatu dengan caranya masing-masing, tapi cerita membuatnya lebih mudah dimengerti”. Dan ia sering berkata, “Kau harus menjadi sosok yang sedang kau gambar”, menegaskan betapa dalamnya ia menyelami perasaan setiap tokohnya.

   Menurut penilaian The Art Section, gaya Rego mirip dengan pelukis potret tajam seperti Alice Neel, karena ia menelanjangi psikologi manusia secara jujur dan tanpa topeng. Namun Rego lebih surealistik dengan memasukkan benda-benda pendukung dan hewan, serta sentuhan klasik dari pelukis lama lewat cara ia menggambar kain pakaian dan pose tubuh yang kuat. Kritikus seni sering menyebut ia melanjutkan tradisi pelukis besar seperti Goya, yang berani melukis kekejaman dan ketidakadilan, namun dengan sudut pandang perempuan yang sama sekali baru.

   Ada benang merah yang terjalin di seluruh karya Paula Rego: perlawanan terhadap kekuasaan dan penindasan. Seperti ditafsirkan oleh para kurator, karya Rego selalu menyoroti hubungan kuasa, antara pria dan wanita, orang tua dan anak, penguasa dan rakyat, kaya dan miskin—dan bagaimana pihak yang lemah sering kali dipaksa diam. Karyanya sangat kental dengan semangat feminisme, namun berakar kuat pada tema-tema rakyat dan budaya dari tanah kelahirannya. Ia melukis apa yang orang lain enggan sentuh: kekejaman rejim Salazar, ketimpangan peran perempuan, aborsi, depresi, kekerasan berbasis gender, hingga kemiskinan dan penderitaan sosial. Bagi Rego, seni adalah senjata yang paling efektif untuk membongkar apa yang disembunyikan oleh norma sosial dan hukum.

   Beberapa karya besarnya menjadi bukti ketajaman pemikiran itu dan kini menjadi koleksi penting dunia, antara lain: The Policeman’s Daughter (1987) yang menggambarkan hubungan kuasa dan ketundukan; The Dance (1988), adegan ramai penuh nuansa tradisi dan ketegangan; seri Nursery Rhymes (1989) yang mengubah sajak anak-anak menjadi kisah penuh makna tersembunyi; seri Dog Women (1994) yang menolak batasan sosial tentang perilaku perempuan; Flood (1996) tentang kekacauan dan penderitaan; serta seri Aborsi (1998) yang berani melukis penderitaan perempuan dan disebut ikut mengubah hukum di negaranya. Karya terakhirnya, seri Secrets of Faith (2002–2022), mengisahkan kisah agama dari sudut pandang tubuh dan perasaan manusiawi.

   Paula Rego menerima banyak penghargaan tinggi, mulai dari gelar Dame Commander dari Kerajaan Inggris (2010) hingga penghargaan tertinggi dari negaranya sendiri, Portugis: Salib Agung Ordo Militer Santo Yakobus Pedang. Ia juga meraih penghargaan akademis bergengsi, termasuk gelar doktor kehormatan dari Universitas Oxford dan Universitas Lisbon. Namun warisan terbesarnya bukanlah penghargaan, melainkan keberaniannya. Ia membuktikan bahwa seni rupa bisa menjadi ruang di mana suara-suara yang terbungkam didengar. Ia mengajarkan kita bahwa lukisan tidak harus indah untuk menjadi hebat, tetapi harus jujur, berani, dan mampu menyentuh sisi terdalam dari kemanusiaan kita. Ia mengubah cara dunia melihat seni figuratif, mengubah cerita dongeng menjadi kritik sosial, dan mengubah perempuan dari objek pasif menjadi subjek yang berbicara, berjuang, dan hidup sepenuhnya. Melalui tulisan dan penilaian lembaga seni besar dunia, nama Paula Rego kini tercatat sebagai salah satu seniman paling berpengaruh yang pernah ada. Ia pergi, namun sosok perempuan yang tegar, penuh rahasia, dan berani menatap dunia dengan mata tajam itu, terus hidup di setiap goresan pastelnya, menantang kita untuk terus bertanya, merenung, dan berani berbicara.